Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:00:08 WIB

Cerpen Abdul  Wahid 

Tiga Dekade : Satu + Satu = Sembilan 

KUMANDANG adzan dan sholat berjemaah di sebuah masjid salah satu kampus swasta di Pekanbaru 32 tahun lalu, tepatnya 21 Oktober 1994 menjadi saksi bisu awal segalanya. Di sanalah, dalam riuh diskusi Latihan Kader 1 HMI, tatapan mata mereka pertama kali bertemu. Tidak ada kemewahan, hanya dua anak muda dengan idealisme tinggi dan keyakinan bahwa mereka bisa menghadapi dunia bersama.

Dua tahun merajut janji, tanggal 21 Oktober 1996 mereka melangkah ke Kantor KUA untuk menikah dengan sangat sederhana. Modal mereka saat itu hanyalah cinta, selembar ijazah, dan doa yang tak putus-putus. Mereka tidak tahu, bahwa badai kehidupan sudah bersiap menguji keteguhan janji tersebut.

Meniti Hari Diawal Langkah

Pernikahan dini selepas meninggalkan kampus, mengajarkan mereka arti sabar yang sesungguhnya. Hidup di rumah petak kontrakan kecil pada tahun-tahun pertama menguji keteguhan, dompet yang menipis menjelang akhir bulan, lampu pelita saat listrik padam, hingga tangis bayi yang bersahutan di tengah malam buta.

Namun, nilai-nilai independensi dan keadilan yang dipupuk sejak zaman pengkaderan menjadi kompas hidup mereka. Setiap badai dihadapi dengan kepala dingin, dan setiap tawa disyukuri sebagai nikmat.

10 tahun pertama pernikahan adalah babak perjuangan hidup yang teramat berat. Ekonomi yang belum mapan memaksa mereka memutar otak setiap hari. Ujian terbesar sekaligus berkah terindah datang ketika sang istri mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Indonesia (UI).

Di tengah kepungan tugas kuliah yang menumpuk dan adaptasi kota besar, anak pertama mereka lahir. Dengan peluh dan air mata, mereka berbagi tugas, menggendong bayi sambil membolak-balik buku kuliah, merajut asa di tengah keterbatasan. Berkat dukungan sertadoa dari orang tua dan saudara masa sulit itudapat dilalui dengan bahagia.

Buah Hati PelipurLara

Badai perlahan mereda memasuki 10 tahun kedua. Titik balik itu tiba ketika mereka berdua menjadi Abdi Negara. Kehidupan rumah tangga yang tadinya limbung mulai bisa ditata dengan lebih mapan. Kebahagiaan mereka kian lengkap dan riuh dengan hadirnya 4 orang anak, tiga jagoan laki-laki dan si bungsu seorang anak perempuan yang menjadi pelipur lara. Rumah yang dulunya sepi kini selalu penuh dengan tawa, tangis, dan cerita hangat setiap malam.

Waktu bergulir cepat tanpa permisi. Di 10 tahun ketiga, semua jerih payah itu mulai berbuah manis. Anak pertama mereka kini sudah berkeluarga, mandiri membangun hidupnya sendiri. Anak kedua sedang berjuang menyelesaikan pendidikan S1, siap menjemput masa depan.

Sementara anak ketiga kini duduk di kelas 9 SMP, dan si bungsu perempuan tumbuh menggemaskan di kelas 7 SMP. Kebahagiaan pasangan ini kian sempurna pucuk dicinta ulam pun tiba dengan hadirnya 2 orang cucu yang lucu dari anak pertama mereka. Rumah mereka kembali ramai oleh langkah-langkah kecil yang menggemaskan.

Kehidupan rumah tangga mereka yang berawal dari satu tambah satu, kini sudah menjadi Sembilan, Empat orang anak buah cinta, ditambah seorang menantu istri dari putra pertama. Kehadiran dua orang cucu yang berlari kecil di ruang tamu menjadi saksi paling indah bahwa cinta dari ruang LK 1 HMI itu telah berbuah manis, abadi, dan melintasi zaman.

Menata Hati di Usia Senja

Usia senja bukan ujung makna, melainkan pintu kebijaksanaan. Di saat tubuh melambat dan dunia terasa lebih sunyi, Islam hadir sebagai cahaya penuntun agar manusia menua dengan tenang, bermartabat, dan penuh syukur. Nilai ini sejalan dengan pesan-pesan kemanusiaan tentang menerima hidup, menjaga jiwa, serta memuliakan hari-hari terakhir dengan iman dan harapan. Menjadi tua adalah ketetapan yang tidak bisa ditolak, namun cara menyikapinya adalah pilihan iman.

Di usia yang tersisa, mesti pandai menjaga diri, ingat pesan tentang berjalan pelan, bernapas tenang, dan tidak memaksa tubuh membebani diri diluar kemampuan. Menghitung saat melangkah dan kapan berhenti, kapan berusaha dan kapan berserah, serta berdamai dengan keadaan,

Kini, dengan rambut yang mulai memutih dan kerutan yang mengukir manis di sudut mata, mereka bersiap memasuki 10 tahun keempat. Sambil duduk berdua di teras rumah menikmati teh hangat sore hari, sang suami menggenggam jemari istrinya.

Perjalanan 30 tahun ini bukanlah jalan yang rata, melainkan bukit berbatu yang berhasil mereka daki bersama. Dan menatap masa depan yang tersisa, mereka tahu, selama tangan itu tetap saling menggenggam, mereka akan selalu baik-baik saja. **

Berita terkini

Oleh : Abdul Wahid

Pengadilan

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:00:39 WIB
Bual-bual Wak Doel

Oleh: Abdul Wahid

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:12:20 WIB
Bual Bual Wak Doel

Oleh: Abdul Wahid

Sabtu, 09 Mei 2026 - 14:48:15 WIB
Oleh : Ir Budhi Hidayat SAg MHI

Idul Fitri Hari Kemenangan

Selasa, 09 April 2024 - 07:30:04 WIB
Oleh : Hj. Saptunis, S.Ag.

Zakat Fitrah

Selasa, 02 April 2024 - 07:05:58 WIB
Oleh: Harmudianto, S.Ag

Menjemput kemenangan

Kamis, 21 Maret 2024 - 07:35:59 WIB
Oleh : Nia Dahlia, S.Ag

10 Hikmah Puasa Ramadhan

Minggu, 17 Maret 2024 - 06:50:45 WIB
Oleh : H. Suryandi Temala Lc MA

Puasa Berkah Tanpa Masalah

Rabu, 13 Maret 2024 - 07:05:13 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+

Advertorial

Tiga Dekade :  Satu + Satu = Sembilan 

Tiga Dekade : Satu + Satu = Sembilan 

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:00:08 WIB