Rabu, 20 Maret 2024 - 07:00:30 WIB

Oleh : Hj. Azhariah, Lc. MA

Memakmurkan Masjid Pada Bulan Ramadhan

Hj. Azhariah, Lc. MA

https://riaupunya.com/gambar/foto/6064718598.png

BULAN yang sudah lama dinanti para pencintanya akhirnya tiba, ada banyak alasan orang begitu dalam mencintai ramadhan, begitu besar harapan mereka terhadap ramadhan. Ramadhan juga diharapkan mendatangkan berkah untuk kehidupan dunia dan ukhrawi, sejarah menunjukan prestasi umat dan dunia islam banyak terjadi pada bulan ramadhan. Sekaligus melatih umat muslim untuk menghadiri pelaksanaan shalat jamaah di masjid atau di musalla, selama bulan suci ramadhan umat muslim di didik untuk melaksanakan ibadah selama 29 hari atau 30 hari, pelaksanaan shalat qiyamul lail seperti shalat tarawih, iktikaf, dan tadarus al Quran, dan dari hasil dari 30 hari atau 29 hari akan membuahkan hasil semakin semaraknya jamaah shalat berjamaah di masjid.

Jika ditelusuri dalam al-Quran, kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali dijumpai dalam al-Quran, dari segi bahasa kata tersebut terambil dari akar kata sajada yasjudu sujud yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan dahi, kedua lutut, dan kaki ketanah yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari makna makna diatas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid yang artinya tempat sujud. Masjid memiliki banyak peran fungsi strategi dalam kehidupan salah satunya sebagai berikut:

Pertama fungsi teologis yaitu sebagai tempat untuk melakukan aktivitas yang mengandung ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan total kepada Allah SWT fungsi ini disarikan dari firman Allah SWT dalam al-Quran: Sesungguhnya orang yang meramaikan masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat (QS. At Taubah: 19). Ayat diatas menunjukkan dimensi tauhid tanpa terikatan oleh waktu dan tempat. Selain itu, makna pembebasan yang ditawarkan . Pembebasan seorang muslim dari belenggu kekufuran, dengan kata lain didalam masjid hanya orang orang yang beriman kepada Allah SWT.

Kedua fungsi ibadah. Masjid memiliki fungsi sebagai tempat menyelenggarakan ibadah. Fungsi ibadah (peribadatan) ini merupakan kelanjutan fungsi dari fungsi teologis yang menyatan bahwa masjid adalah tempat penyucian dari segala aktivitas kemaksiatan, penyucian atau pengesaan tersebut memiliki makna yang sebenarnya sebagai sarana ibadah.

Ketiga fungsi moral dan peran sosial ibadah di masjid dianggap sebagai penyerahan total apabila disertai dengan nilai moral yang menyangkut gerajan hati dan fisik. Dengan kata lain, masjid hanya boleh dijadikan tempat untuk melakukan ibadah atau kegiatan kegiatan duniawi yang mencerminkan etika dan nilai moralitas luhur. Keempat, fungsi keilmuan dan kependidikan. Dalam sejarah, fungsi ini dapat dilihat pada setiap aktivitas Nabi Muhammad SAW yang berpusat di masjid. Masjid di masa itu menjadi center of excellence pusat perkembangan segala ilmu, kehidupan sosial dan bernegara. Catatan sejarah dari sebuah masjid memunculkan perguruan tinggi tertua di dunia, Universitas pertama lahir dari peradaban islam adalah, Universitas al Qarawiyyin salah satu perguruan tinggi di Maroko, didirikan sejak tahun 859 M tidak heran jika Guinnes Book Of World Record tahun 1998, telah menempatkan Universitas al-Qarawiyyin menjadi perguruan tinggi tertua di seantaro jagad yang menawarkan bidang ke ilmuan sain, social dan agama, selain itu tentunya juga tidak kalah penting beberapa Universitas tertua dan ternama di jagad dunia seperti Universitas Al Azhar di Cairo didirikan oleh dinasti fatimiyah, Universitas Sankore di Mali, dan Universitas Nizamiyah di Parsia, cikal bakal berdirinya Universitas tersebut berasal dari majelis majelis keilmuan yang pergerak dari sebuah masjid.

Pradigma Masjid Sekuler

Kondisi masjid di Indonesia saat ini memang mengkhawatirkan, paradigma umat terhadap institusi masjid selama ini memang masih sekuler. Mengapa disebut dengan sekuler ? Sebab, masjid hanya dipahami sebagai tempat ibadah mahdah yang sangat sempit. Hal ini sesungguhnya juga adalah cara pandang sebahagian umat islam dalam keberagamaan, dimana ibadah mahdah berpisah ( baca: sekuler) dengan ibadah sosial. Untuk membuktikan paradigma sekuler dalam konteks masjid dapat dirasakan saat berinteraksi dengan masjid dalam keseharian. Perhatikanlah laporan pengurus masjid, dalam setiap mingguan yang kebiasaanya terjadi pada hari jumat ketika shalat jumat hendak dimulai, hanya terkait kegiatan masjid dalam demensi ibadah seperti pelaksanaan shalat jumat, jadwal pengajian, jadwal maulid, isra’ mikraj, zikir akbar. Perhatikan juga laporan yang tertera didinding, hampir kesemuanya untuk menyatakan keseluruhan hanya menyangkut masalah ibadah, seperti jadwal imam, khatib dan wirid pengajian.

Sungguh paradigma masjid sekuler ini sangat berbahaya. Jika terhadap masalah anak terlantar, orang miskin atau anak anak yang putus sekolah, anak yatim, para orang tua yang terlantar yang tidak diperdulikan keluarga, yang berada dimasjid atau area disekitar lingkungan masjid di anggap bahwa hal itu bukan tugas urusan pengurus masjid. Dana infak yang nominal besar tersebut hanya tersimpan disebuah Bank dengan terus menerus meningkatkan saldo dari jumat ke jumat dan pada akhirnya menjadi kebanggan yang luar biasa ketika dibacakan lewat pengumuman shalat jumatan dengan jumlah yang semakin hari semakin besar, tidak sedikitpun dana dikucurkan kepada kebaikan umat diarea lingkungan masjid tersebut. Shalat dengan mengurus permasalahan masyarakat yang membutuhkan atau memberi makan fakir miskin dan mengurus anak yatim dianggap dua hal yang berbeda. Mengubah paradigma masjid sekuler menjadi masjid yang berperan strategis sangat penting dilakukan. Seperti yang kita pahami bawa masjid adalah pusat kegiatan umat islam. Shalat dengan realitas kemiskinan, kebodohan, kesenjangan sosial adalah variable variable yang tidak dapat dipisahkan. Makna dari memalingkan ke kanan dan kiri saat mengakhiri shalat adalah kewajiban melihat kondisi orang miskin, anak terlantar, putus sekolah, penghijauan dengan menanam pohon, anak yatim, orang yang sedang dirawat dalam keadaan sakit dan lainya, sangat perlu mengadakan perubahan peran strategis masjid untuk membantu kesejahteraan masyarakat dilingkungan masjid.

Peran Strategis Masjid

Program masjid sebagai community center hendaknya dilakukan dengan skala prioritas serta melihat kondisi masjid secara nyata di lapangan. Skala prioritas penting disusun supaya pengurus masjid tidak gagap menerima program-program ideal tersebut. Harus pula dipahami bahwa persoalan mendasar dari kondisi masjid kita adalah persoalan manajeman masjid yang jauh dari dari ideal. Terdapat disebahagian orang bahwa pengurus masjid adalah tempat kegiatan orang orang pensiunan sangat terasa, termasuk masjid masjid diperkotaan, belum lagi melihat kondisi masjid yang berada dipedesaan yang terkesan terkunci dan hanya dibuka ketka menjelang shalat tiba atau ketika menjelang waktu shalat magrib tiba, bahkan lebih ironis dan kemungkinan tidak jarang masjid atau mushalla berubah sementara menjadi kandang binatang ternak yang singgah sementara akibat jarang digunakan oleh masyarakat sekitar.

Kita rindu dengan peran strategis masjid yang mampu diubah oleh pengurus masjid, dengan mampu keluar dari tatanan tradisi pengurus lama dengan berani maju selangkah untuk menghadirkan peran strategis masjid yang mampu untuk menghadirkan pengumuman dan kesejahteraan dari pengurus masjid yang tidak hanya melaporkan tentang shalat, khatib jumat, penceramah dan wirid pengajian, tetapi juga mampu menghadirkan lowongan kerja, koperasi masjid, jumlah siswa yang dibiayai masjid, santunan kepada anak yatim / fakir miskin, jenis pohon yang ditanam dalam penghijauan, sumbangan pengobatan, sumbangan perumahan bagi fakir miskin yang tidak mampu dan seterusnya. Pada akhirnya lewat bulan ramadhan yang berkah ini sudah saatnya paradigma masjid sekuler menjadi masjid yang punya peran strategis ditengah masyarakat untuk mewujudkan masjid yang memiliki pesan wahyau ilahi. Waalahu ‘Alam. **

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+