Oleh: Abdul Wahid*
Ketika Manusia Lupa…
KEHIDUPAN dunia ini adalah episode singkat namun sangat menentukan bagi manusia, karena akan diminta pertanggungjawabanya di episode kehidupan berikutnya. Akan tetapi walaupun amat singkat kehidupan dunia ini sangat menggoda, dan memperdaya manusia. Padahal seperti lagu Ahmad Albar dunia hanyalah sekedar panggung sandiwara belaka.
Allah Sang Pencipta manusia tegas dalam Al-Qur'an berfirman bahwa manusia diciptakan untuk beribadah QS. Adz-Dzariyat: 56, yang berbunyi:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
Jelas sudah tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah, mengabdi, taat, dan tunduk hanya kepada Allah SWT. Ayat ini menekankan pengesaan Allah (tauhid) dan larangan menyekutukan-Nya. Ibadah di sini mencakup seluruh ketaatan, baik vertikal maupun aktivitas duniawi yang diniatkan karena Allah. Sementara itu ibadah bukanlah kebutuhan Allah, melainkan kebutuhan manusia untuk kebaikan diri mereka sendiri.
Namun Hidup ini sering membuat manusia lupa. Mereka terlalu sibuk menggenggam dunia, seakan semua yang ada di tangan ini akan selamanya tinggal. Padahal hakikatnya, semua hanya sementara. Rumah, harta, jabatan, nama baik, bahkan tubuh yang kita banggakan semuanya hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja oleh Pemiliknya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Tidaklah seseorang berada di dunia kecuali ia hanyalah seorang tamu, dan hartanya adalah titipan. Setiap tamu pasti pergi, dan setiap titipan pasti dikembalikan.”
Ketika manusia lupa akan tujuan penciptaannya—yaitu untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT (QS. Az-Zariyat: 56)—hidup mereka akan kehilangan arah, makna, dan keseimbangan. Menurut pandangan Islam, melupakan tujuan hidup berakibat pada dampak psikologis, spiritual, dan moral.
Akibatnya manusia akan merasa hidupnya hampa, sia-sia, atau sekadar rutinitas, karena mereka tidak memahami arah tujuan akhir (akhirat) dan terjebak dalam hiruk-pikuk duniawi. Selain itu manusia cenderung hanya mengejar kesenangan duniawi (harta, takhta, wanita/pria), melupakan persiapan untuk kehidupan abadi setelah mati.
Dengan hidup tanpa tujuan spiritual, manusia mudah stres, cemas, dan depresi karena tidak memiliki sandaran batin yang kuat saat menghadapi kesulitan, yang seringkali berujung pada menyalahkan keadaan atau Tuhan. Saat manusia melupakan Penciptanya, Allah akan membuat mereka lupa pada diri mereka sendiri (tujuan mulia mereka), sehingga mereka bingung membedakan antara yang bermanfaat dan yang merugikan diri sendiri. Jadilah manusia seperti makhluk yang tidak berakal, hanya mengikuti hawa nafsu dan terjebak dalam perilaku yang tidak bertanggung jawab.
Maka apa yang pantas disombongkan? Saat semua yang dimiliki bisa lenyap dalam sekejap jika Allah berkehendak. Yang hari ini dibanggakan, esok bisa menjadi saksi yang menuntut pertanggungjawaban. Jika disadari semua hanyalah titipan, seharusnya manusia takut menyalahgunakannya. Gunakan harta untuk taat, jabatan untuk amanah, ilmu untuk menuntun, dan umur untuk mendekat kepada Allah.
Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabrata
Atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar
Ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?
Pada akhirnya, yang selamat bukan yang paling banyak memiliki, tetapi yang paling siap mengembalikan titipan dengan iman dan takwa.
*Penulis :Kasi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan































































