Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:25:56 WIB

Cerbung Karya : Lita Rinaldy

Jadian

SETATUHUN kemudian. 1996.

Tidak ada pernyataan dengan bunga. Tidak ada surat cinta.

Saat Idul Fitri, pabrik libur 3 hari.
Jam 10 pagi ada yang mengetuk pintu dorm.
"Dek... boleh bicara sebentar?"
Mas Dwi. Baju koko putih. Membawa ketupat dan opor.

Kami duduk di tangga dorm. Sepi. Angin bertiup kencang.
Lama terdiam. Lalu ia berkata pelan:
"Dek... aku menyukaimu. Sejak mug biru itu. Mau tidak menjadi kekasihku?"

Aku terdiam. Jantung berdegup. Tanganku dingin.
"Iya... mau" jawabku pelan sambil menunduk.

Sejak itu kami resmi berpacaran.
Masih melalui titipan. Melalui Pak Security.
"Titipan untuk Mbak Ninda" begitu terus.
Hanya saja sekarang berbeda. Ada kepastian. Ada yang menunggu.


Rumah di Sekupang

Beberapa bulan berpacaran, kami mulai serius.
Menabung untuk DP rumah kecil di Sekupang.
Sudah dua kali survei. Cat krem. Pagar bambu. Jalan masih tanah merah.

Ia mengirim foto Polaroid melalui Pak Security.
Di belakang foto ada tulisan pulpen biru:
"Nanti kita ngopi di sini ya, Dek. Pakai mug biru - Dwi"

Aku membalas di secarik kertas:
"Iya Mas. Setahun lagi ya. Sabar"

Setiap gajian menyisihkan 50rb. 100rb.
Membayangkan nanti pagi-pagi ngopi bersama di teras. Menggunakan mug biru itu.

Pamit

Awal 1997. Hari Jumat.
Jam 6 pagi aku dipanggil ke pos. Ia sudah menunggu.
Matanya sembab. Membawa tas ransel.

"Dek..." suaranya serak. "Aku harus ke Jawa. Bapak sakit."

Dadaku langsung sesak.
"Lama Mas?" tanyaku.
"Tidak tahu, Dek. Doakan ya."

Di Pelabuhan Batu Ampar, ombak besar. Bau amis.
Antri panjang. Pengumuman kapal terus terdengar.

Sebelum naik, ia berhenti.
Tangannya gemetar hendak menyentuh tanganku.
"Dek..."

Aku mengangguk. Menahan air mata.
Ia memelukku pelan. Tidak erat.
Hanya menempelkan keningnya di keningku. Tiga detik.
Aroma sabun Lux nya masih sama.

"Jaga diri baik-baik ya, Mas" bisikku. Suara hampir tak terdengar.
"Tunggu aku ya, Dek. Sebentar saja."
"Iya" jawabku. Padahal di dalam hati sangat takut.

Lalu ia melepas. Berjalan sambil menoleh dua kali.
Kapal berangkat. Ia melambaikan tangan dari atas.
Aku berdiri di dermaga. Menggenggam erat mug biru.
Pulang ke dorm berjalan kaki. Sepi. (Bersambung)

Berita terkini

Pameran Kaligrafi GHN, Upaya Menggaungkan Karya Seni Islami

Senin, 27 Februari 2023 - 07:20:24 WIB

Dewan Kehormatan Adat LAMR Dukung Mubeslub

Senin, 18 April 2022 - 21:50:44 WIB

Ini Harapan Reog Singo Mbalelo Terhadap Keberadaan PPJR

Senin, 06 Desember 2021 - 08:50:33 WIB

23 Paguyuban Telah Nyatakan Bergabung, PPJR Dideklarasikan

Minggu, 28 November 2021 - 00:00:15 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+