Cerpen… Abdul Wahid
MIMPI yang NYATA
‘Woi sanak, alah dibaco contoh soal tes du “ ujar Rizki Buntal begitu dia dipanggil teman-temannya, anak nagoghi Air Tiris
“Iko sodang mambaco,” jawab Rahmat yang sedang asyik didepan layar labtop teman sekampungnya
“Opo toh, wong lagi boco berisik wae” timpal Beni putra jawa asal lampung
“Iyo, ndak tangguong angek ayii dilu do, kolian yo lomak lai ado kipeh angin” gerutu Rizki
“Samo ajo du ki, diateh ko lain pulo angeknyo,” guman Rahmat yang disambut tawa Beni dan Rizki
“Ape kalian meribut aje ni, awak belum dapat contoh soal lagi, bagi-bagilah kawan Mat,” seru Pak Cik Affan anak jati negeri terubuk Bengkalis.
Rizki, Rahmat, Beni dan Affan tenaga honorer yang sedang bersiap menghadapi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap 2 diinstansi tempat mereka bekerja sudah sekian tahun lamanya.
Walau berbeda suku dan bahasa, waktu sudah menyatukan mereka menjalin persahabatan dalam suka maupun duka, sebagai tenaga honorer dengan tugas masing-masing, walau gaji yang diterima hanya cukup buat makan, namun kesabaran dan ketekunan mereka dalam bekerja mengantarkan keujung penantian untuk diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) .
Tes PPPK tahap 2 adalah kesempatan terakhir dari perjuangan panjang tenaga honorer agar diangkat sebagai ASN. Formasi yang tersedia tidak sebanyak peserta yang mengikuti tes, sehingga mereka harus berjuang mendapatkan nilai tertinggi di formasi pilihannya, untuk meraih kursi yang tersedia.
Hari yang ditunggu tiba juga, Sabtu, 31 Mei 2025 tes PPPK tahap 2 dilaksanakan, ada seratus lima puluh orang peserta yang memilih tilok di MAN 2 Pekanbaru. Hujan lebat mengguyur Kota Bertuah sejak subuh, tiada henti sampai siang.
“Iyo sabonou lobek ujan, basah kuyub den,” guman Rahmat saat mengisi absen dimeja panitia tes.
“Semoga hujan membawa berkah bagi kita semua, bagian dari perjuangan kawan-kawan tu” sambut Fajrul panitia di meja absensi sambil tersenyum
“Peserta yang sudah mengisi absen dipersilakan masuk ke ruangan tes, duduknya silahkan pilih sendiri, bebas” himbau Bang Fay sebagai Ketua Panitia
Hujan deras yang terus turun membuat PLN melakukan pemadaman aliran listrik, suasana aula menjadi gelap, tes dilakukan secara daring, panitia sedikit panik. Beruntung tim teknis MAN 2 gerak cepat, jenset yang sudah disiagakan langsung mengambil alih peran PLN, pelaksanaan tes dapat teruskan.
“Alhamdulillah,” bergema bergetar suara panitia dan peserta memanjatkan syukur.
“Perangkatnya disiapkan, cek koneksi internet, baterai dan pulsa jagan sampai zoonk, dan hanya laptop yang ada diatas meja, ” panitia mengumumkan melalui pengeras suara.
“Pak, laptop saya tidak bisa terkoneksi dengan internet “ seru salah seorang peserta tes, beberapa orang peserta lain juga mengangkat tangan tanda minta dibantu.
Panitia Tim IT, Ispik, Dayat, Alfan, Tia, Ari, Nur, bersama IT MAN 2 sigab membantu peserta yang mengalami kendala, saat tes dimulai peserta sudah terkoneksi semua.
Ditengah hening suasana aula, saat semua peserta fokus mengerjakan soal, tiba-tiba Rizki mengacungkan tangan. Dayat bergerak mendekati, ternyata koneksinya terputus. Beruntung belum mulai mengerjakan soal, sehingga hitungan waktunya tetap dari nol.
“Makonyo jan melasak jo tangan tu,” ujar Dayat setelah berhasil membantu Rizki sambil menahn tawa
“Waktu tersisa tinggal lima menit lagi,” terdengar suara dari panitia pusat melalui zoom
“Bagi yang telat mulainya tadi, terus kerjakan sampai habis waktu yang tersisa” terang Bang Fay
Satu persatu peserta tes beranjak dari mejanya, pertanda sudah selesai, ada yang senyum, menahan tawa, tegang, cemberut dan agak lemas. Karena tes ini bisa langsung dilihat nilainya oleh peserta.
“Aduh aku tadi tak konsenlah, jadi dapat nilai pas-pasan saje,” gerutu Affan sambil menikmati snack dari panitia
“Yo piyelah, soalnya panjang-panjang mumet mikirin” timpal Beni
Beda dengan Rahmat, muka agak cerah
“Alhamdulillah dapat nilai 70” ujarnya sambil tersenyum
“Rizki mana kok belum nampak” tanya Affan
“Masih didalam, belum selesai dia, tadi terlambat mulai,” terang Rahmat
Sambil menikmati snack mereka berbagi cerita perjuangan datang ketempat tes, menempuh hujan, menerjang banjir, baju basah tidak lagi dipersoalkan.
Semua peserta punya cerita berbeda, bagi yang diantar naik mobil oleh keluarga amanlah. Tapi yang naik motor ada yang hampir mati mesin kendaraannya akibat dalamnya genangan air sepanjang jalan, ada pula yang terjatuh cemas hanyut dibawa arus air yang deras. Namun karena ini merupakan kesempatan terakhir untuk mewujudkan mimpi menjadi nyata, semua mereka hadapi dengan senang hati.
“Lamak kalian yo, alah santai makan kue,” ujar Rizki memecah suasana
“Waang yang talambek, jan salahkan urang’ jawab Rahmat
“Walah ki, nopo laptop mu, ketahuan pinjam yo” ledek Beni
“Syukurlah selesai juge kawan kite” imbuh Affan
Peserta sesi 2 dipersilakan memasuki ruangan, pengeras suara panitia bergema sampai keluar, panitia kembali disibukan melayani peserta.
Proses sudah dilewati, menunggu hasil dan keputusan lagi, hari makin terasa lambat. Karena menunggu sesuatu itu terasa lama. Namun semua peserta optimis ini Mimpi yang Nyata, walau masuk ASN katagori PPPK, penantian bertahun lamanya akan terbayar lunas.
Jika tidak hari ini, mungkin minggu depan, jika tidak minggu ini, mungkin bulan depan… jika tidak bulan ini, mungkin tahun depan, Mimpi itu akan menjadi Nyata.. jangan pernah menyerah….
Penulis Ka Subbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Pekanbaru.





























































