Cerpen Abdul Wahid
Aroma Teh Ibu dan Panggilan Ayah
SORE itu Aria sedang duduk sendirian di teras rumah tua peninggalan orang tuanya, secangkir teh hangat mengepul di depannya, mengingatkan pada ibunya yang selalu membuat teh hangat setiap sore.
Ia teringat bagaimana ayahnya selalu memangggilnya ke mushallah saat sholat Magrib tiba, dilanjutkan dengan pengajaran membaca al quran, ayah memang sangat disiplin dalam sholat dan mengaji, adakala ayah memberi pelajaran dengan rotan, kalau membaca al qurannya tidak lancar.
Saat itu ibunya memeluknya erat setiap kali ia pulang menangis. Semua kenangan itu begitu jelas, seolah mereka masih ada di sampingnya.
Setahun lalu, Ibu pergi menyusul ayah yang telah lebih dulu mendahului. kepergian mereka seakan mematikan dunia Aria. Rumah yang dulu ramai kini sunyi. Setiap sudut menyimpan jejak mereka. Aria sering menangis di kamar, menyesal karena dulu tak sering mengucap "Aku sayang Ibu, Ayah".
Untuk mengobati kerinduannya Aria megunjungi makam orang tuanya. Di sana, ia berbicara pada batu nisan, mencurahkan isi hatinya. Ia mulai belajar bahwa kerinduan bisa jadi pengingat untuk hidup lebih baik dan melanjutkan perjuangan mereka.
Senja mulai tenggelam. Aria memandang langit.
"Ibu, Ayah... terima kasih untuk semuanya. Aria akan melanjutkan hidup, menjadi anak yang membanggakan kalian."
Ia yakin, di mana pun mereka berada, mereka pasti tersenyum melihat Aria yang tegar. Kerinduan itu abadi, namun keikhlasan menjadi kekuatan baru baginya. Aroma Teh buatan Ibu, dan panggilan sholat Ayah akan menemaninya sepanjang hayat.




























































