Cerpen Abdul Wahid
Senja di Tepian Narosa
Candra pernah berjanji pada Maya akan menemaninya melihat matahari terbenam dari Tepian Narosa kala Senja, tempat pertama kali mereka bertemu dan jatuh cinta. Janji itu diucapkannya di bawah pohon rindang, di tepian Narosa yang tenang, dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Maya, penuh harapan.
HARI itu, Maya kembali menunggu di tepian Narosa, gaun merahnya berkibar tertiup angin sore. Matanya terus menatap ke arah jalan setapak yang biasa dilalui Candra. Namun, senja berlalu begitu cepat, warna jingga berubah menjadi lembayung, dan akhirnya gelap. Candra tidak kunjung datang.
Bulan berlalu tahun berganti, Maya waktu itu masih duduk dikelas dua SMA, saat rombongan mahasiswa KKN dari Perguruan Tinggi ternama di ibu kota propinsi datang ke desanya. Maya gadis desa yang manis penuh pesona membuat hati Candra salah seorang mahasiswa yang KKN kepincut, dan akhirnya Candra dan Maya berjanji untuk saling setia.
Namun lima tahun telah berlalu, Candra tak pernah menepati janji untuk menemui Maya saat perhelatan budaya Pacu Jalur tiba, karena kala itulah mereka memadu kasih. Setelah pulang KKN sampai akan selesai kuliah, Candra masih sering berkabar pada Maya, akan tetapi setelah wisuda Candra seperti hilang ditelan bumi. Maya kecewa, namun hatinya tetap menyimpan harapan. Dia tahu Candra akan datang menemuinya.
"Maafkan aku, Maya," suara lirih, mengejutkan Maya dari lamunannya. Dia menoleh dalam remangnya senja sambil menatap sosok lelaki yang selama ini dinanti berdiri dihadapannya. Maya tak berkedip tak kuasa bersuara, hanya tetes air mata yang berlahan keluar dari matanya yang indah.
"Aku tidak bisa memenuhi janji lima tahun sudah, hari ini aku datang menebusnya Maya" suara Candra bergetar sambil menggenggam tangan Maya.
"Tapi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Mari kita tepati janji itu dengan cara yang berbeda. Kita akan pergi ke tempat yang selalu kamu impikan, melihat matahari terbenam di tempat yang jauh lebih indah."
Mereka berpelukan erat, air mata menggenang di mata. Janji yang diingkari itu telah berubah menjadi sebuah petualangan baru, sebuah bukti bahwa cinta sejati tidak harus sempurna, tetapi selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menepati janji dengan cara yang lebih baik.
Mereka pun pergi, menyaksikan senja terbenam ditempat yang tak pernah mereka bayangkan, bersatu dalam janji yang baru dan lebih kuat.




























































