Program Pengabdian Masyarakat Teknik Otomotif Umri Mendapat Pujian
Riaupunya.com -- Lakukan monitoring dan mengevaluasi (monev) program pelatihan mekanik sepeda motor yang dilakukan Prodi Teknik Otomotif Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Reviewer Pengabdian DRPM Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, Dr Ir I Wayan Budiastra M.Agr puji Umri.
Pelatihan itu merupakan aplikasi dari program pengabdian masyarakat yang dibiayai oleh Kemenristekdikti RI. Sebelumnya, sejak tiga bulan terakhir Prodi Teknik Otomotif sudah melatih 15 anak putus sekolah di Kecamatan Payung Sekaki agar menguasai teknik perbengkelan.
“Monev ini guna memastikan apakah proposal yang diajukan pihak Umri dikerjakan sesuai yang direncanakan atau tidak. Ternyata saat dicek memang dikerjakan,” ungkap Wayan. Ia mengakui, pernah mengalami ada proposal yang tidak dikerjalan di kampus lain.
Dijelaskan Wayan, selain Umri ada beberapa kampus lagi yang menerima anggaran pengabdian masyarakat. Namun karena waktu yang singkat, dirinya hanya mengambil tiga kampus untuk divisitasi.
Dari visitasi itu, dia menilai pada dasarnya di Riau tak ada proposal yang tidak dikerjakan. Cuma tahapannya berbeda. Ada yang 100 persen, 70 atau 50 persen. “Semua tergantung waktu pelaksanaan oleh perguruan tinggi. Bisa jadi ada masalah soal dana yang baru turun,” ungkap dia, Selasa 12 September 2017 kemarin.
Wayan menambahkan, monev yang ia lakukan juga bertujuan untuk mengecek mitra program. Termasuk memantau materi apa saja yang dilatih dan sebagainya. Jadi ada bukti bahwa program tersebut memang dikerjakan.
“Hal yang paling penting, mitra mendapatkan manfaat dari program kemitraan masyarakat ini. Jadi kalau mereka bisa buka bengkel dan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk bekerja di bidang perbengkelan, maka program ini dianggap berdampak positif,” kata dosen IPB tersebut.
Kalau dari 15 orang yang dilatih Umri itu ada calon wirausaha, maka pihak kampus bisa mengusulkan program bantuan permodalan. Sehingga, pengetahuan yang mereka dapatkan selama pelatihan dapat teraplikasikan dengan benar serta menunjang kemandirian para mitra.
Dijelaskan dia, program pengabdian masyarakat adalah kegiatan tahunan. Tahun ini ada 8.000 kelompok yang dimonev di seluruh Indonesia. Sementara anggaran bantuan disesuai dengan jenis program. “Jadi tidak merata anggarannya,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Prodi Teknik Otomotif Umri, Jusnita ST MT mengaku optimis program yang mereka laksanakan ini dapat penilaian yang bagus. Karena sudah dibuktikan dengan jalannya program.
Kedepan, Jusnita sudah memikirkan untuk ikut program lagi. Khususnya untuk membantu peserta pelatihan agar bisa membuka usaha sendiri. “Kita imbau pelaku industri otomotif sepeda motor agar mengambil tenaga kerja dari peserta yang Umri latih,” kata dia.
Pemerintah juga diharap mau ikut membantu peserta pelatihan agar segera mendapat kerja atau membuka usaha. Misalnya lewat LPM di kelurahan. Apalagi, para peserta pelatihan ini akan tersertifikasi oleh Umri. Jika tersertifikasi, perusahaan tidak ragu dengan kemampuan mereka.
Ditambahkan Jusnita, selama pelatihan, dirinya didampingi sejumlah pengajar di Umri. Di antaranya, M Fikry Hadi dan Hasan yang bertindak selaku mentor. Ada juga peran Teguh Irawan, laboran Teknik Otomotif Umri.
Sementara itu, seorang peserta, Dani mengaku senang bisa mengikuti pelatihan yang digelar Umri itu. Menurut dia, pelatihan ini sangat bermanfaat karena memberi wawasan tentang perbengkelan sepeda motor.
Dengan materi pelatihan ini, Dani yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dengan dunia perbengkalan. Dia optimis, ilmu itu bisa dipakai untuk melamar di bengkel atau membuka usaha sendiri. (rls)


















































