Sabtu, 01 Agustus 2026 - 12:27:34 WIB

Cerpen: Abdul Wahid

Lempeng Sagu Emak

AROMA sangit kelapa dan manis alami sagu kembali membawa ingatan Ku terbang melintasi waktu. Di tanah perantauan yang serba cepat ini, di hadapan sepiring pancake modern dengan sirup maple yang mahal, memoriku justru menerawang pada sebuah dapur berdinding papan di kampung halaman.

Memori tentang lempeng sagu buatan Emak, terbayang dipelupuk mata, berbinar tersenyum, berlahan murung dan butiran air mata tiada terasa menetes tanpa diundang.

Saat Aku masih kecil di kampung halaman tepian sungai Indragiri, sore hari setelah hujan adalah waktu yang paling dinanti. Udara dingin menyelinap di antara celah dinding papan rumah kami. Di sudut dapur, Emak sudah bersiap dengan ritual kecilnya. Tidak ada mikser listrik, tidak ada timbangan digital. Senjata Emak hanyalah sebuah kuali besi yang menghitam oleh jelaga dan sepasang tangan yang mulai keriput dimakan usia.

Biasanya Aku duduk di atas bangku kayu pendek sambil bergurau dengan abangku Aron, memperhatikan setiap gerak-gerik Emak. Tangan itu dengan telaten mencampur tepung sagu rumbia kering dengan parutan kelapa muda. Emak selalu menambahkan sedikit garam dan percikan air, lalu meremasnya dengan perasaan. Tidak boleh terlalu basah, tidak boleh terlalu kering, begitu pesan Emak yang selalu diingatnya.

"Sagu ini melambangkan kesabaran, Nak," ujar Emak suatu hari, suaranya lembut di antara suara kayu bakar yang gemeretak. "Kalau kamu terburu-buru, dia akan keras dan mentah di dalam."

Setelah adonan siap, Emak mengambil segenggam parutan kelapa lalu meratakannya di atas kuali panas tanpa minyak. Aroma khas segera menyeruak. Bau tepung sagu yang terpanggang beradu dengan gurihnya kelapa, menciptakan wewangian magis yang sanggup mengusir rasa dingin. Emak membalik lempeng itu dengan sepotong daun pisang, memastikan kedua sisinya masak sempurna dengan warna kecokelatan yang eksotis.

Bagiku saat itu, lempeng sagu panas yang disajikan di atas daun pisang adalah kemewahan tiada tara. Cara terbaik menikmatinya adalah dengan mencocolnya kedalam sambal Belacan Ikan Teri, atau yang sederhana menaburinya dengan sedikit gula pasir.

Teksturnya yang kenyal sekaligus renyah di pinggiran selalu membuat Kami tak bisa berhenti mengunyah.
Kini, tiga puluh delapan tahun telah berlalu. Setelah Aku merantau ketanah seberang meninggalkan kampung halaman, dan rumah masa kecil itu sudah lama tiada. Namun, setiap kali badai hidup datang menerpa di kota besar ini, Aku selalu merindukan ketenangan dapur Emak.

Keinginan untuk kembali menikmati Lempeng Sagu buatan Emak hanya tinggal mimpi belaka, karena dua tahun berlalu Emak sudah tiada, meninggalkan kenangan dan pesan yang tiada akan pernah pudar diingatan. Walau hari ini sudah ada kedai kopi melayu yang menyediakan menu Lempeng Sagu, akan tetapi itu tidak dapat menggantikan nikmatnya lempeng sagu Emak.

Aku memejamkan mata yang basah, berlahan menyuap potongan pancake. Rasanya manis, tapi hambar bagi jiwa. Di dalam hati, rasa lempeng sagu buatan Emak tiada akan pernah tergantikan oleh kuliner mana pun di dunia ini.

Makanan sederhana itu bukan sekedar pengisi perut, melainkan wujud cinta paling murni yang dipanggang Emak di atas kuali kehidupan untuk kami buah hatinya.**

Berita terkini

Dewan Kehormatan Adat LAMR Dukung Mubeslub

Senin, 18 April 2022 - 21:50:44 WIB

Ini Harapan Reog Singo Mbalelo Terhadap Keberadaan PPJR

Senin, 06 Desember 2021 - 08:50:33 WIB

23 Paguyuban Telah Nyatakan Bergabung, PPJR Dideklarasikan

Minggu, 28 November 2021 - 00:00:15 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+

Advertorial

DPD IMM Gelar Rakor Bidang Perkaderan IMM se-Riau

DPD IMM Gelar Rakor Bidang Perkaderan IMM se-Riau

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 13:57:05 WIB
Lempeng Sagu Emak

Lempeng Sagu Emak

Sabtu, 01 Agustus 2026 - 12:27:34 WIB