TVRI Riau dan FIKOM UMRI Perkuat Edukasi HIV/AIDS bagi Generasi Muda
PEKANBARU – Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bersama TVRI Riau memperkuat edukasi pencegahan HIV/AIDS bagi generasi muda melalui program Pamong Menyapa.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama kedua lembaga sekaligus mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat.
Mengangkat tema “Sinergi Bersama: Wujudkan Generasi Sehat Bebas HIV/AIDS”, kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, kesehatan, organisasi masyarakat, dan perguruan tinggi.
Narasumber yang hadir antara lain Wakil Wali Kota Pekanbaru sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pekanbaru Markarius Anwar, S.T., M.Arch.; Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Dedi Sambudi; Dekan FIKOM UMRI Jayus, S.Sos., M.I.Kom.; serta dr. Khairi Prawira dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Riau.
Kegiatan yang diproduksi TVRI Riau tersebut berlangsung di lingkungan FIKOM UMRI dan melibatkan mahasiswa sebagai peserta. Forum ini membahas kondisi HIV/AIDS di Pekanbaru, pola penularan, langkah pencegahan, pentingnya deteksi dini, serta peran keluarga, institusi pendidikan, pemerintah, media, dan masyarakat dalam membangun kesadaran generasi muda.
Persoalan HIV/AIDS menjadi perhatian serius di Kota Pekanbaru. Data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV hingga triwulan pertama 2026 telah mencapai sekitar 3.700 kasus. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi, skrining, pengobatan, dan kolaborasi lintas sektor.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar menekankan pentingnya memperluas edukasi HIV/AIDS kepada kelompok usia muda. Edukasi tidak hanya diperlukan untuk memberikan pemahaman mengenai risiko penularan, tetapi juga membangun kesadaran agar generasi muda mampu menjaga diri dan menghindari perilaku berisiko.
Pemerintah Kota Pekanbaru bersama KPA dan Dinas Kesehatan juga terus memperluas sosialisasi ke lingkungan pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis karena dapat menjadi ruang pembentukan pengetahuan, sikap, dan perilaku sehat sejak dini.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Dedi Sambudi menjelaskan pentingnya pemahaman yang benar mengenai jalur penularan HIV sekaligus upaya pencegahannya.
Selain edukasi, pemeriksaan dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penularan serta memastikan orang dengan HIV memperoleh penanganan dan pengobatan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Dekan FIKOM UMRI Jayus, S.Sos., M.I.Kom. mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam edukasi HIV/AIDS tidak hanya dilihat dari perspektif kesehatan, tetapi juga dari perspektif komunikasi.
Menurutnya, persoalan HIV/AIDS membutuhkan strategi komunikasi publik yang tepat agar informasi yang diterima masyarakat, khususnya generasi muda, tidak melahirkan kesalahpahaman maupun stigma.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan edukasi kepada generasi muda. Dalam konteks ilmu komunikasi, tantangannya bukan hanya bagaimana informasi tentang HIV/AIDS disampaikan, tetapi bagaimana pesan itu dapat dipahami dengan benar, mampu membangun kesadaran, dan pada saat yang sama tidak melahirkan stigma terhadap orang dengan HIV,” kata Jayus.
Ia menilai mahasiswa dapat mengambil peran sebagai agen literasi di tengah masyarakat. Kemampuan mahasiswa dalam menggunakan media sosial dan berbagai platform digital dapat diarahkan untuk menyebarkan informasi kesehatan yang benar, edukatif, dan bertanggung jawab.
Jayus juga mengapresiasi TVRI Riau yang terus membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan Pamong Menyapa merupakan bentuk nyata implementasi kerja sama yang telah dibangun antara TVRI Riau dan FIKOM UMRI.
“Kerja sama tidak seharusnya berhenti pada dokumen. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kerja sama tersebut menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat kepada mahasiswa dan masyarakat. Program bersama TVRI Riau ini menjadi salah satu bentuk implementasi yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Melalui program Pamong Menyapa, sinergi antara media penyiaran publik, pemerintah daerah, lembaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi HIV/AIDS.
Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan HIV/AIDS membutuhkan pendekatan lintas sektor. Perguruan tinggi berperan melalui pendidikan dan literasi, pemerintah melalui kebijakan dan pelayanan kesehatan, sedangkan media memiliki kekuatan untuk memperluas pesan edukasi kepada masyarakat.
Bagi FIKOM UMRI, keterlibatan dalam program Pamong Menyapa juga menjadi bagian dari penguatan implementasi kerja sama dengan TVRI Riau dalam bidang pendidikan dan komunikasi publik. Ke depan, kolaborasi kedua lembaga diharapkan terus dikembangkan melalui kegiatan akademik, produksi program edukatif, peningkatan kompetensi mahasiswa, serta kegiatan lain yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.**
































































