Warga Sakai Tutup Akses ke Water Park Hutahaean Group di Duri
Riaupunya.com -- Pembangunan Water Park bertaraf Nasional yang digesa oleh Hutahaean group di Jalan Swadaya, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, Bengkalis sejak tiga tahun lalu tampak sedikit terkendala oleh aksi puluhan masyarakat Sakai yang menutup akses Jalan menuju ke lokasi pembangunan tersebut dikarenakan dianggap telah melakukan pelecehan dan pembodohan oleh Chief Perusahaan, M. Arsyad.
Hal tersebut diungkapkan oleh tokoh Adat Sakai, H. Siantar yang juga Ketua Sakai Bathin Selapan, Riau." Ucapan pihak perusahaan sangat menyinggung perasaan kami dengan pernyataannya kami tidak ada hak mengetahui jika ada penerimaan karyawan dalam pembangunan proyek Water Park ini dan janji perusahaan untuk melaksanakan denda adat ternyata tidak hanya sebatas angin surga saja,"ujarnya.
Dikatakan Siantar, atas ulah perusahaan tersebut, pihaknya meminta agar pemerintah memeriksa perizinannya dan pemerintah agar bertindak tegas." Kami akan tetap menutup akses ini sampai ada itikad baik dan komitmen dari PT Hutahaean group,"tegas Siantar didampingi puluhan pemuda Sakai saat pemasangan portal jalan dan mendirikan tenda di badan Jalan Swadaya sebagai akses masuk mobil pembawa material pembangunan water park perusahaan tersebut, Sabtu 25 Februari 2017.
Terpisah, Kuasa Hukum PT Hutahaean Group, Marnalom Hutahaean saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon genggamnya mengatakan jika jawabannya sudah ada melalui salah seorang wartawan harian lokal riau yang bertugas di Kota minyak Duri. Namun sayang, saat dihubungi melalui telepon genggam wartawan yang dimaksud berulang kali tak kunjung tersambung.
Sebagaimana dijelaskan Ketua Bathin Sakai Bathin Selapan, Riau tersebut, berawal dari penerimaan karyawan pembangunan Water Park bertaraf nasional itu. Dalam prosesnya, Chief PT Hutahaean, M Arsyad mengatakan jika Sakai tidak tidak harus mengetahui informasi penerimaan karyawan dan saat diklarifikasi akan pernyataan itu, pihak perusahaan menyetujui kesepakatan dan bersedia membayar denda adat dengan duduk makan bersama.
Namun di hari yang telah disepakati, ternyata pihak perusahaan Hutahaean group tidak pernah menampakkan batang hidungnya, apalagi melaksanakan kesepakatan tersebut dan hal tersebut yang menjadikan alasan Sakai selaku masyarakat tempatan merasa dilecehkan dan dibodohi hingga terjadi aksi penutupan akses jalan tersebut.
Sumber: Riauterkini.com

























































