Rabu, 10 Agustus 2022 - 20:50:18 WIB

Torehan pena Laksamana Hery

Hati Merdeka... Rakyat Riau, Warisan Negeri Sultan yang Terabaikan

Laksamana Hery

HATI Merdeka Rakyat Riau di tanah bertuah di Negeri warisan Sultan, kini menjadi catatan kelam yang tak bisa dilupakan, Hingga menjadi balada dosa - dosa pusat terhadap Riau.

Sebagai budak Melayu yang terlahir dari rahim ibunda tanah pusaka negeri bertuah, Laksamana Hery tak pernah lelah untuk terus memberikan edukasi hati nurani, Anak negeri yang terlahir dari tanah tuah Raja Rokan.

Dalam sebuah diskusi Laksamana Hery memaparkan pemikiran dari para pendahulu nya yang selalu konsen terhadap nasib Riau, Laksamana Hery mengingat kan kembali kita tentang catatan jati diri dan perjuangan Riau ;

Riau yang hari ini menjadi bagian dari Kesatuan Republik Indonesia perlu mengingat kan kembali tentang negeri para sultan yang bertuah, diantaranya ; sumbangan terhebat dan sekaligus terbesar yang diberikan oleh Sultan Syarif Kasim II kepada Republik Indonesia, bukanlah semata uang sebesar 13.000.000 [tiga belas juta gulden]. Sama sekali bukan itu, dan sungguh angka tiga belas juta gulden itu, teramat kecil. Sama halnya dengan Sultan Hamengkubuwono IX yang juga turut menyumbang 6,5 juta gulden menurut catatan Tempo. Kedermawanan dan kerelaan hati sultan Siak yang terbesar, adalah ketika Ia menyumbang sebuah “Negara” yang sudah berusia lebih 200 tahun, yang didirikan oleh nenek moyangnya, kepada Republik Indonesia yang waktu itu baru berdaulat dalam hitungan hari. Sungguh suatu keputusan yang tidak mudah.

Ya, Beliau menyumbang sebuah “Negara Berdaulat” yang bernama Kesultanan Siak Sri Indrapura, menyerahkan Istana Matahari Timur [Astana Asserayah al-Hasyimiyah], beserta daerah yang dinaungi nya. Dari perut “Negara“ yang beliau sumbangkan itu, Indonesia menemukan jalan kemajuan, memiliki pintu kesejahteraan, dan menemukan puncak martabat.

Dari perut Bumi negeri Sultan Siak Sri Indrapura yang Beliau sumbangkan, mengalir minyak, yang lebih deras dari hujan airmata kepedihan orang Riau. Sejak tahun 1928 Sultan Syarif Kasim II Selaku Kepala Negara Kesultanan, beliau menandatangani perjanjian dengan memberi izin ekploitasi minyak bumi, Sebagai mana disebut dalam tulisan Riauonline.co.id ; "Izin dari konsesi eksplorasi dan eksploitasi WK Migas Rokan pertama kali diizinkan oleh Sultan Siak ke-12 yaitu Sultan Syarif Kasim II pada perusahaan minyak asal Amerika,". Begitu pula catatan PT. Chevron, bahwa sampai tahun 2021, minyak yang sudah dihisap dari bumi Riau lebih kurang sebanyak 11,6 milyar barrel. Andai pun memang benar hanya segitu, maka dengan hitungan kasar, jika dikalikan dengan angka $50 per barrel, maka minyak dari perut bumi yang disumbangkannya, sudah berjumlah $580.000.000.000 [lima ratus delapan puluh milyar dolar], dan jika dikalikan dengan nilai tukar dollar sebesar Rp. 15.000, maka angkanya demikian mencengangkan, yaitu sebesar Rp. 8.700.000.000.000.000 [delapan ribu tujuh ratus trilyun] atau 8,12 Kuadriliun.

Jika angka tersebut dikonversi ke dalam besaran APBD Provinsi Riau dan Kabupaten/Kota secara keseluruhan, maka itu setara dengan anggaran belanja selama 3 ratus tahun. Jika angka 8,7 kuadriliun itu ditambah dengan hasil komoditi kelapa sawit, yang Kini mencapai jutaan hektar. Salah satu perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap negara hari ini sudah merugikan negara mencapai 78 triliun dari luasan lahan nya kurang lebih 35.000,- Hektare, Seperti di tulis banyak media di Riau dan nasional. Ditambah lagi sumbangan 1,6 ton Emas, berlian, mahkota, perikanan, dan yang lain-lainnya.

"Kita sangat memuliakan juga para penyumbang lainnya di negeri ini, tanpa perlu memperolok-olok pihak lain".

Kini, “Negara” yang disumbangkan Kesultanan Siak tersebut, telah bermetamorfosis menjadi Provinsi Riau, dan sebagiannya menjadi wilayah Provinsi lain. bekas Kesultanan Siak itu akan terus menyumbang melalui Blok Rokan dan kegiatan ekonomi yang lain, demi Indonesia yang adil dan makmur. Di masa datang, sangat perlu bagi Indonesia, untuk lebih memperhatikan Riau atas bakti yang diberikan kepada Indonesia. Indonesia perlu memperhatikan Riau, agar Indonesia dapat menjadi sebuah negara yang mengenal perbedaan untuk satu kesatuan, tanpa mengkebiri wilayah yang keruk kekayaan nya.

#JikaRiauMerdekalah

Dirgahayu Riau...
Dirgahayu Republik Indonesia..

*** Penulis adalah Presiden Aliansi Masyarakat Adat Melayu (AMA) Riau.

Berita terkini

Rolling AKD, PDIP Minta Lebih Proporsional

Kamis, 04 Mei 2017 - 00:00:00 WIB

Pilpres 2019, Fadli Zon sebut Tinggal Prabowo Vs Jokowi

Selasa, 02 Mei 2017 - 00:00:00 WIB

Anies Janji Bertemu Ahok Kembali Setelah Penetapan KPU

Senin, 24 April 2017 - 00:00:00 WIB

Dewan akan Pilih Wakil Gubernur Riau Besok

Senin, 24 April 2017 - 00:00:00 WIB

PKB Persilahkan Anggota Pilih Wagubri Sesuai Hati Nurani

Kamis, 20 April 2017 - 00:00:00 WIB

PKB Pastikan akan Mengusung LE di Pilgubri 2017

Kamis, 20 April 2017 - 00:00:00 WIB

Ini Ancaman Hukuman bagi Pemberi dan Penerima Politik Uang

Selasa, 18 April 2017 - 00:00:00 WIB

KPU DKI Berlakukan ini Untuk Pemilih Ganda di DPT

Senin, 17 April 2017 - 00:00:00 WIB

Aksi Sejuta Tanda Tangan untuk Pilkada DKI Damai

Minggu, 16 April 2017 - 00:00:00 WIB

Kekurangan Pada Debat Final Pilkada, KPU DKI Minta Maaf

Kamis, 13 April 2017 - 00:00:00 WIB

Administrasi Calon Wagubri di Verifikasi Panlih

Selasa, 11 April 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+