Bagian IV
Iman dan Amal Saleh atau Aqidah dan Syariah
OLEH sebab itu, percobaan yang pertama hendak membunuh Islam itu tidaklah berhasil. Ternyata kian ditekan kian melawan. Ketika lemah mereka itu menaruh dendam dan mengumpulkan kekuatan. Dilakukanlah ikhtiar yang kedua, yaitu dari segi pendidikan dan mengubah cara berpikir.
Dilakukan politik pendidikan "mendekati". Yang terkenal dengan nama "Etik Politik"
Apa sebab maka bangsa penjajah itu kuat sehingga dapat menakluki negeri Islam? sebab ialah karena mereka lebih terpelajar dan mereka tidak terikat oleh agama.
Jadi, kalau orang Islam hendak maju seperti orang Barat, tidak ada jalan lain, hanyalah dengan melonggarkan ikatakan agama itu. Orang Islam harus pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, jangan fanatik, mesti lapang dada, bahkan mesti pandai hidup secara modrn! Hidup secara Barat. Kalau tidak, tentu tidak dapat maju.
Memang kemegahan Barat atau negeri penjajah itu amat menyilaukan mata. Orang-orang tua terpaksa menyerahkan puteranya kepada sekolah-sekolah kepunyaan pemerintah yang berkuasa. Kalau tidak, niscaya tidak dapat hidup.
Jelaslah dasar pendidikan yaitu "neutral agama". Artinya, pada sekolah-sekolah pemerintah, agama tidak diajarkan. Semata-mata tidak diajarkan lagi sudah membawa kelemahan, apatah lagi kalau ditambah pula dengan pengajaran setiap hari yang berisikan anasir racun kejemuan, muak dan bosan, dan akhirnya benci kepada agama.
Yang penting dipelajari adalah bahasa dari bangsa yang menjajah. Karena dengan mempelajari bahasa itu naiklah tingkat dan dihargai oleh bangsa yang dipertuan itu. Adapun bahasa Arab sebagai bahasa Islam, kian lama kian hilang.
Dalam buku-buku pengajaran digambarkan anak negeri asli dengan muka bodoh dan seburuk-buruknya, kakinya tidak berterompah, orangnya bodoh-bodoh. Bangsa kuli, petani yang kurus, hidungnya pesek, dan mukanya hitam berminyak. Digambarkan pula orang Arab dengan jubahnya yang rimbih dan serbannya yang besar dan menipu orang! Adapun "bangsa tuan-tuan" mukanya berseri, sikapnya manis, dermawan dan tahu akan peri kemanusian! Bertambah naik kelas, dari sekolah rendah, sampai sekolah menengah permulaan dan sekolah menengah atas, bertambah jauh putra berpendidikan penjajahan itu dari masyarakat Islamnya, dari masyarakat desanya, dan orang tuanya.
Akhirnya setelah sampai sekolah tingi, mulailah diajarkan "agama Islam" dari segi ilmu pengetahuan Barat, pendapat Profesor anu, kupasan sarnaja polan, yang isinya ialah memandang Islam sebagai pandangan orang lain. Tidakkah kita heran kelak apabila mereka ini keluar dari dalam sekolahnya, rengganglah mereka dari masyarakatnya laksana renggangnya minyak dengan air. Bertemulah kita dengan orang Belanda yang lebih Belanda. Orang Perancis yang lebih dari Perancis, orang Inggris yang lebih dari Inggris, tetapi kulitnya hitam seperti kita.
Mereka tidak mengerti lagi memaki bahasa asli bangsa dan kaum seagamanya. Cara mereka berpikir pun, bahkan cara mereka bermimpi, sudah cara Belanda!
Kian lama kian beranilah mereka menyatakan bahwa agama Islam itu adalah kolot, hanya pakaian-pakaian "budak pondok" yang tidak megnarti kehidupan modrn! apabila ada yang berani membicarakan agama Islam di dekat mereka, mereka pun mencebikkan bibirnya, mengatakan orang yang membicarakan itu "fanatik".(bersambung)










































