Iman dan Amal Saleh atau Aqidah dan Syariah
Riaupunya.com -- Amantu Billah, sekarang saya telah percaya kepada Allah. Artinya, sekarang saya telah mengenal siapa Allah; kenal dan yakin. Inilah iman
Tulisan ini dimbil utuh dari buku karya Prof Dr Hamka berjudul Kesepaduan Iman dan Amal Saleh terbitan GEMA INSANI.
Wa Aslamtu Lah. Sekarang saya telah menyerahkan kepada-Nya. Menyerah dengan sepenuh hati. Artinya, segala perintah dan hukum-Nya aku taati, suruhan-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap kerelaan. Inilah Islam, Iman dan Islam, percaya dan menyarha, adalah dua kalimat yang tidak tercerai selama-lamanya. Tidaklah cukup percaya sajapadahal tidak menyerah. Tidaklah sempurna menyerah kalau tidak percaya.
Bukti kita percaya kepada-Nya, tentu kita ikuti perintah-Nya. Kita mengikuti perintah adalah karena kita percaya. Kesimpulan dari keduanya, ini kepercayaan dan penundukan, itulah ia Agama.
Mengakui diri beriman padahal tidak mengikuti perintah, belumlah bernama Mukmin.
"Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya), kemudian, sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman". (an-nur:47).
Kesepaduan yang tidak terpisah di antara kepercayaan dan penyerahan, di antara aqidah dan ibadah, diantara pengakuan hati dan perbuatan, itulah agama yang benar. Itulah yang dinamakan agama Islam.
Kemudian, dibuatkanlah kaidah, bahwasanya agama Islam ialah agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan perantaraan Jibril, termaktub di dalam Al-quran dan ditafsirkan oleh sunnah.
Sunnah ialah perjalanan, lebuh raya lurus yang akan ditempuh, yang telah didahului oleh Nabi dan kita ikuti dari belakang. Tradisi Nabi Saw..
Mengaku percara kepada Allah, padahal tidak mengikuti perintah-Nya atau tidak menjalankan isi Al-Quran, atau tidak menuruti sunnah Nabi, kalau kita pikirkan mendalam, bukanlah iman lagi dan halusnya bukanlah Islam.
Mengaku percaya kepada Allah, apakah keberatan mengerjakan perintah-Nya? Mengaku percaya kepada Allah, apakah keberatan menghentikan larangan-Nya?. Mengaku diri seorang Islam padahal tidak mengerjakan Shalat Lima waktu. Cobalah pikirkan, benarkan pengakuan itu? Mengaku seorang Islam padahal enggan mengeluarkan zakat? Apa sebab? Apakah lantaran merasa bahwa harta itu bukan pemberian Allah? Mengaku diri seorang Islam padahal enggan puasa bulan Ramadhan. Apakah sebabnya? Bukankah lantaran pengakuan itu belum bulat? lain dimulut, lain di hati?.
Ini pertanda bahwa pengakuan belum betul, kepercayaan belum duduk, artinya iman belum ada! kalau iman belum ada, niscaya Islam pun belum ada!. Cobalah tanya hati sendiri! Apakah beratnya mengerjakan perintah?. (bersambung)










































