Bagian II
Iman dan Amal Saleh atau Aqidah dan Syariah
ADA orang yang menjawab; asalkan hatiku sudah percaya dan budiku dengan sesama mahkluk sudah baik, beribadah dan beramal tidak perlu lagi. Mendengar jawaban ini bertambah nyata bahwa iman dan Islamnya belum ada! sebab Islam bukanlah semata-mata kepercayaan dan pengakuan.
Menjadi orang kristen pun adalah hati baik. Menjadi orang Yahudi pun adalah hati baik. Demikian juga menjadi orang Budha. Adapun setiap agama itu ada caranya sendiri. Kalau mengakui hati baik padahal keberatan mengerjakan perintah agama, tandanya hati itu tidak baik!.
Ada pula yang menjawab bahwasanya beribadah kepada Allah itu bukanlah Shalat dan Puasa saja. Asalkan kita menolong sesama manusia, asalkan kita berjuang menegakkan cita-cita Islam, sudahlah cukup kita menjadi orang Islam. Alangkah ganjilnya jawaban ini!, Ini adalah pertanda bahwa Islam hanya dikenal pada kulitnya saja.
Anda hendak berjuang menegakkan cita-cita Islam dalam masyarakat, dalam negara, ekonomi, politik dan sebagainya padahal Shalat anda tinggalkan, inilah pertanda rumah yang hendak anda bangun itu tegak di atas tiang yang lapuk. Atau, Anda mendirikan rumah tidak memakai tiang. Rumah itu selamanya tidak akan tegak. Rumah baru berdiri apabila dimulakan dari sendinya.
Sabda Nabi, "Shalat itu adalah tiang agama. Barang siapa yang meninggalkan Shalat adalah ia meruntuhkan agama,"
Kalau perbuatan kita telah meruntuhkan agama, disebut apakah kita?.
Bahkan ada lagi hadist lain, yang sampai menjadi perbincangan panjang lebar di dalam kalangan ulama-ulama yaitu, "Barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja sesungguhnya ia telah kafir".
Kita katakan menjadi perbincangan hebat sehingga sampai kepada pertimbangan wajib atau tidaknya meng-qadha shalat yang sengaja ditinggalkan. Ada ulama yang mengatakan bahwasanya satu waktu shalat yang sengaja ditinggalkan, tidaklah perlu diqadha lagi. Penggantinya tidak lain adalah tobat! Ada yang mengatakan bahwa telah batal dengan sendirinya nikahnya dengan isterinya.
Kalau kita ingin menjadi orang Islam, lebih baik masuk kepada pemahaman ini sampai sedalam-dalamnya. Paham ini bukanlah menerawang, tetapi menurut mantik atau logika yang sewajarnya.
Kalau kita percaya kepada Allah, tentu kita cinta kepada-Nya, tentulah kita sudi berkorban menuruti apa yang dikehendaki-Nya. Cinta yang tidak sudi berkorban, menurut yang terpakai dialam ini, adalah cinta palsu. Apakah lagi terhadap Allah, niscaya itu adalah iman palsu. Islam palsu.
Engkau mendurhakai perintah Allah
Padahal di lahir menyatakan cinta
Di dalam alam ini mustahil
Di dalam alam ini pun ganjil
Kalau nian cintamu tulus
Niscaya perintah-Nya engkau taati
Sebab orang bercinta pada kecintaan
Patuh dan tunduk senantiasa
Kenanglah kisah iblis. Tersebut di dalam riwayat bahwasanya iblis itu pada mulanya adalah penghulu segala malaikat karena ketaatannya. Dikatakan bahwa tidak ada lagi sejengkal bumi pun dan setempa langit pun, yang di sana iblis belum pernah beribadah. Namun pada suatu masa ia diperintah menundukkan mukanya, sujud kepada Adam. Ia enggan dan membesarkan diri.
"Maka ia menjadi kafir"
Sederhana saja hukuman itu. Ia keluar dari disiplin Ilahi. Ia disuruh sujud, tetapi tidak mau sujud. Kafir! Habis perkara! Pengakuannya selama ini tentang keesaan Allah tidaklah berfaedah lagi. Karena, pengakuannya tidak diikuti oleh ketaatan ketika perintah datang.
Hakikat demikianlah yang menyebabkan Abu Bakar, Khalifah Rasulullah yang pertama, memerangi orang yang enggan membayar zakat walaupun pada mulanya Umar mencoba menghalanginya. Dengan spontan Abu Bakar menjawab, "Demi Allah, saya tidak mau membeda-bedakan orang yang meninggalkan shalat dan enggan mengeluarkan zakat".
Mereka mengaku beriman, percaya kepada Allah, percaya kepada Muhammad, hanya meminta dikecualikan membayar zakat. Diberi peringatan, ia pun menantang dengan kekerasan. Diangkatnya senjata memberontak diperangi dan dikalahkan. Termasuklah ia kedalam barisan pengikutnya yang dahulu enggan pula, yaitu iblis.
Kalau anda pikirkan dan renungkan agama itu dengan mendalam, tentu anda tidak akan dapat berpikir lain daripada kesudahan yang seperti ini. Mengaku diri Islam, perintah tidak dikerjakan bahkan berbangga pula karena meninggalkan perintah. Mengakui diri umat Muhammad, padahal yang dilarang dikerjakan juga; mungkinkah menamakan orang Islam? Padahal Islam artinya taat dan menyerah.
Kalau berpikir sehat, hal ini tidak dapat diterima. Entah kalau berpikir tidak sehat lagi. Lalu orang yang bebal dinamakan alim, orang durhaka dinamakan taat, dan orang yang dusta dinamakan benar dan baik. (bersambung)
























































