Cerbung Karya : Lita Rinaldy
Mug Biru yang Retak
Kopi Lembur Pertama
Namanya Dwi Setia Nugraha.
Aku mengenalnya di PT. EVOX RIFA, Muka Kuning, tahun 1995.
Dia pegawai baru di bagian Gudang. Katanya anaknya pendiam, rajin, selalu datang lebih awal.
Kami tidak pernah bertemu langsung.
Tapi namanya sering kudengar dari teman-teman. "Dwi Gudang tuh yang sering lembur beresin barang" begitu.
Waktu itu pabrik baru menerapkan 2 shift: pagi dan malam.
Aku masuk malam jam 7. Dia masuk pagi jam 7.
Jadi kami seperti dua dunia yang hanya bersinggungan di meja absen dan mesin fotokopi.
Suatu pagi, sekitar jam 6.30. Udara Muka Kuning masih dingin, ada bau solar truk dan kopi sachet.
Saat aku hendak pulang shift, mesin sudah dimatikan, lampu gudang mulai redup...
Pak Security memanggil dari pos. Suaranya serak karena kantuk.
"Mbak... ada titipan. Dari anak Gudang. Namanya Dwi."
Aku menghampiri. Di atas meja kayu pos security ada sebuah mug warna biru.
Biru tua. Mug keramik polos. Ga ada tulisan. Ga ada nama.
Gagangnya agak besar, seperti mug yang dijual di pasar.
Di bawahnya masih ada stiker kecil: Rp3.500
Tidak ada surat. Tidak ada pesan.
Hanya mug biru polos itu, masih terasa hangat.
Waktu itu aku tinggal di dorm Blok K6 No 8, Muka Kuning.
Malamnya di kamar, aku membuat kopi Kapal Api.
Saat air panas dituang, terdengar bunyi ssss... uapnya naik.
Sejak hari itu, setiap kali membuat kopi malam di pabrik,
aku selalu teringat ada seseorang di shift pagi...
yang memperhatikanku dari jauh, tanpa pernah menyapa.
Setelah Mug Biru Itu
Tiga hari setelah mug biru itu ada di meja pos...
pabrik menjadi ramai sendiri.
Yang pertama menyadarinya Mbak Yanti dari QC.
Saat istirahat jam 12 malam, ia melihatku menyeduh kopi dengan mug baru.
"Lhooo... mug baru ya? Biru lagi. Bagus. Beli di mana?"
Aku hanya tersenyum. "Titipan."
"Titipan siapa??" Ia mencolek, matanya penasaran.
Belum sempat menjawab, Mas Anto dari Produksi menyela.
"Walah... itu mug nya Dwi Gudang. Kemarin dia titip ke Pak Security."
Seketika satu pantry terdiam dua detik. Lalu tertawa.
Sejak itu setiap aku ke Gudang mengambil barang,
teman-teman berbisik. "Tuh... yang dikirimi mug..."
Ada juga yang bertanya dengan sengaja: "Kopinya enak ya pakai mug baru?"
Aku berpura-pura sibuk. Mencatat stok, mengecek mesin, berjalan cepat.
Tapi setiap malam saat menyeduh kopi, hatiku terasa aneh.
Batin: Dwi tahu tidak ya kalau mug itu jadi bahan obrolan satu pabrik?
Seminggu kemudian, ada pengumuman di papan.
Shift malam minggu depan berubah: masuk jam 20.00
Artinya... aku dan Dwi semakin tidak akan pernah bertemu.
Malam terakhir dengan jadwal lama, aku lembur menyelesaikan laporan.
Jam 6 pagi, sebelum pulang, aku mampir ke pos security.
"Pak... terima kasih ya" kataku pelan.
Pak Security hanya menggaruk kepala. "Sama-sama, Mbak"
Di meja yang sama... sudah kosong.
Aku pulang membawa mug biru itu.
Dan gosip tentang "mug dari Dwi Gudang"
perlahan kalah oleh gosip baru: siapa yang berpacaran dengan siapa.
Tapi mug itu... tetap kusimpan. (Bersambung)






































