Kamis, 30 Oktober 2025 - 03:40:13 WIB

Cerpen Abdul Wahid

Puisi yang Tak Pernah Sampai

ANGIN sore berembus pelan, menerbangkan ujung jilbabku saat aku duduk di bangku taman. Di sampingku, tumpukan buku pelajaran kimia menjadi saksi bisu betapa seringnya aku mencuri pandang ke arahmu, Adam, yang sedang bermain basket bersama teman-temanmu. Tawa renyahmu, gerakan lincahmu, dan keringat yang membasahi kemejamu selalu berhasil membuat hatiku berdebar tak karuan.

Sudah tiga tahun aku menyimpan perasaan ini. Perasaan yang tumbuh dari persahabatan kita sejak SMP. Dulu, kita selalu mengerjakan tugas bersama, saling bertukar cerita tentang hal-hal konyol, dan bahkan berjanji untuk tetap bersama sampai dewasa. Namun, seiring berjalannya waktu, persahabatan itu berubah menjadi cinta dari satu sisi.”Cintaku”

Aku sadar, kamu terlalu sempurna untuk aku. Kamu tampan, cerdas, dan populer. Sedangkan aku, hanya gadis biasa yang selalu bersembunyi di balik buku-buku tebal. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku, takut jika kejujuranku akan merusak persahabatan yang sudah terjalin.

Malam itu, di bawah kerlip bintang, aku menulis sebuah puisi. Puisi yang berisi semua perasaanku, semua rindu yang tak pernah terucap. “Aku menulis tentang matamu yang seperti bintang, senyummu yang seperti mentari, dan tawamu yang bagai melodi indah”

Aku berencana untuk memberikan puisi itu padamu besok. Aku sudah mempersiapkan mental untuk menerima segala kemungkinan, termasuk penolakan. Aku yakin, setidaknya kamu akan tahu betapa dalamnya perasaanku.

Namun, esoknya, saat aku melihatmu berjalan di koridor sekolah, hatiku mencelos. Kamu berjalan beriringan dengan gadis lain, “seorang siswi baru yang cantik dan periang” Tangan kalian saling menggenggam, dan tawa kalian terdengar begitu bahagia.

Puisi yang sudah aku lipat rapi di dalam saku seragamku terasa berat. Aku urungkan niatku. Aku mengerti, hatimu sudah terisi. “Aku tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu’

Di sore hari yang sama, di bangku taman yang sama, aku robek puisi itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku biarkan angin membawanya pergi, sama seperti aku membiarkan perasaanku pergi. “Aku tahu, cinta tak harus memiliki, dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku”

Meski demikian, aku tetap akan mengingatmu. Kamu, Adam, adalah cinta pertamaku, cinta yang tak pernah sampai, namun tidak bisa ku lupakan.
“Semoga dimapun kamu kini, senantiasa bahagia”

Berita terkini

Ini Harapan Reog Singo Mbalelo Terhadap Keberadaan PPJR

Senin, 06 Desember 2021 - 08:50:33 WIB

23 Paguyuban Telah Nyatakan Bergabung, PPJR Dideklarasikan

Minggu, 28 November 2021 - 00:00:15 WIB

Mahasiswa FIB Unilak Berprestasi di Ajang IMBASADI

Kamis, 21 November 2019 - 10:05:17 WIB
Mahasiswa UIR

Puja dan Ryandi Ukir Prestasi Nasional

Sabtu, 14 September 2019 - 21:15:42 WIB

Kolaborasi Unilak untuk Memajukan Budaya Melayu

Rabu, 03 Juli 2019 - 07:55:18 WIB

Kelenteng Ing Hok King Ramai Dikunjungi Warga Tionghoa

Selasa, 18 Juni 2019 - 16:10:35 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+