Rabu, 13 Agustus 2025 - 22:20:50 WIB

Dua Kali Mangkir, DPRD Bengkalis Ancam Rekomendasikan Bupati Copot Direktur PDAM

BENGKALIS (Riaupunya.com) – Krisis air bersih yang telah melumpuhkan aktivitas warga dan pelaku usaha di Kabupaten Bengkalis selama dua pekan terakhir memuncak dalam rapat pemanggilan manajemen Perumda Air Minum Tirta Terubuk oleh DPRD Bengkalis, Selasa 12 Agustus 2025.

Namun, Direktur PDAM Abel Iqbal tidak datang lagi untuk yang kedua kalinya. Alasannya, saya harus pergi ke Jakarta dan tidak bisa diwakilkan. Tindakan ini membuat pimpinan rapat, Wakil Ketua DPRD Bengkalis Hendrik Firnanda Pangaribuan, dan Ketua Komisi II Yong Sanusi, marah.

"Jika minggu depan dia tidak datang lagi, kami akan rekomendasikan bupati untuk memecat Abel Iqbal," kata Hendrik dengan tegas pada Rabu 13 Agustus 2025.

Dalam rapat terungkap kondisi memprihatinkan: kedalaman waduk PDAM Bengkalis yang seharusnya 8 meter kini hanya 2 meter. Akibatnya, cadangan air hanya bertahan 5 hari, jauh dari klaim manajemen yang menyebut bisa 18 hari. Padahal, jika sesuai standar 8 meter, pasokan bisa cukup untuk 47 hari.

“Masak mereka hanya mengandalkan hujan? Waduk ini kan harus dirawat, bukan dibiarkan dangkal,” sindir Hendrik.

Ia mengimbau warga bersabar karena distribusi air bersih saat ini terhenti total. “Bupati pun merasakan hal yang sama. Ini kita rasakan bersama,” tambahnya.

Usaha Lumpuh, Kerugian Menggunung

Krisis ini tak hanya memukul rumah tangga, tapi juga menghantam sektor usaha.

Adef Adi, pemilik usaha air galon, merugi Rp1–1,5 juta per hari sejak awal Agustus. Ironisnya, tagihan PDAM justru melonjak dari Rp1,5 juta menjadi Rp4–5 juta.

Sabri, pengelola warung, harus membeli 10 galon air setiap hari untuk mencuci perlengkapan makan, di tengah omzet yang merosot.

Pemilik doorsmeer di Jalan Ahmad Yani menolak pelanggan karena tidak ada air, rugi hingga belasan juta rupiah.

“Bayar pajak tetap, tagihan PDAM tetap, tapi air tidak mengalir. Ini menghambat investasi,” keluh salah satu pengusaha.

Kepala Bagian Teknik PDAM, Hary Kumbara, mengakui produksi dihentikan sejak Jumat lalu akibat keterbatasan air baku. Waduk utama masih berisi, namun keruh seperti kopi susu sehingga teknologi nano filter tidak bisa digunakan.

PDAM terpaksa beralih ke pengolahan konvensional dengan bahan kimia dan peralatan lama. Jika lancar, Kamis produksi bisa berjalan lagi, tapi hanya 30 liter per detik—jauh di bawah kapasitas normal 80 liter per detik.

Hendrik menegaskan DPRD akan mengawasi ketat penanganan krisis ini. “Kami yakin laporan ke bupati selalu indah, padahal di lapangan masyarakat dan pengusaha menjerit,” ujarnya.

Krisis air ini kini menjadi ujian besar bagi Pemkab Bengkalis dan PDAM. Tanpa langkah cepat dan nyata, dampaknya akan meluas, menekan perekonomian, dan mengancam kesehatan warga. (AP)

Berita terkini

Septian Nugraha Resmi Jabat Sebagai Ketua DPRD Bengkalis 

Senin, 14 Oktober 2024 - 18:00:24 WIB

Usai Dilantik, Ini Harapan Ketua DPRD Bengkalis

Senin, 18 September 2017 - 00:00:00 WIB

Abdul Kadir Resmi Jadi Ketua DPRD Bengkalis

Senin, 18 September 2017 - 00:00:00 WIB

DPRD Bengkalis sah kan Tiga Renperda menjadi Perda

Selasa, 15 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Firman Resmi Jadi Anggota DPRD Bengkalis

Senin, 07 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Ketua DPRD Bengkalis Kritik Pemberhentian 36 SPD

Senin, 24 April 2017 - 00:00:00 WIB

DPRD Bengkalis Meradang, ini Penyebabnya

Selasa, 14 Maret 2017 - 00:00:00 WIB

DPD PAN akan Segera Menunjuk Plt Ketua DPRD Bengkalis

Selasa, 28 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+