Cerbung Karya : Lita Rinaldy
Kabar Dari Sekupang
HARI berganti minggu. Minggu berganti bulan.Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Tidak ada kabar. Suratku tidak dibalas. Telepon umum juga tidak ada.Setiap pulang shift aku mampir ke pos. "Ada surat Pak?"
"Belum ada Mbak"
Hingga suatu sore hari Minggu. Jam 4.
Ada yang mengetuk pintu dorm.
"Ninda?"
Seorang perempuan. Sekitar 30 tahun. Membawa bingkisan buah.
"Aku kakaknya Dwi. Dari Sekupang."
Jantungku serasa jatuh.
"Silakan masuk, Mbak"
Ia duduk. Tidak minum. Jari memainkan ujung kerudung.
"Ninda... maaf ya. Aku harus jujur. Dwi... sudah menikah."
Ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara kipas angin ngik ngik.
"Menikah... dengan siapa Mbak?" suaraku pelan.
"Dengan sepupunya. Masih kuliah semester 4. Orang tua kami ingin membalas budi kepada keluarga di sana. Dulu saat susah, mereka yang membantu."
Rasanya seluruh tubuh menjadi lemas. Kehilangan tenaga.
Tanganku gemetar. Bingkisan buah terjatuh. Apel menggelinding.
Tanpa sadar aku meraih mug biru di meja. Dingin.
"Oh... begitu" hanya itu yang bisa kuucapkan.
Ia berpamitan. Aku mengantar ke pintu.
Malamnya aku membuka lemari. Mengeluarkan foto Polaroid rumah Sekupang.
Menyobeknya pelan. Kresss.
Mug biru... tetap kusimpan. Kumasukkan ke dalam kardus. Tidak kubuang.
Tiga Tahun Kemudian
Tiga tahun berlalu.
Aku sudah resign dari Evox. Sekarang bekerja sebagai admin pakaian baby di Barata, Batam Centre.
Lantai keramik. AC dingin. Aroma pewangi baju baru. Lagu keroncong pelan dari radio.
Aku juga sudah berkeluarga. Dengan Mas Bayu. Orang sedaerah. Baik.
Kami saling mengenal 4 bulan. Menikah di bulan ke-5.
Karena menunggu... rasanya sudah terlalu lama.
Mas Bayu tidak tahu tentang Dwi. Tidak tahu tentang mug biru itu.
Hari itu hari Rabu. Jam 3 sore. Toko agak sepi.
Aku sedang melipat baju bayi warna kuning, satu per satu dengan rapi.
Tiba-tiba Mbak HRD menghampiriku. Wajahnya bingung.
"Ninda... ada tamu nyariin. Katanya temen lama. Mau ketemu sebentar boleh?"
Aku menoleh ke pintu. Jantungku langsung berdegup.
Mas Dwi. Berdiri agak jauh. Tangan masuk saku.
Aromanya... masih sama. Aroma parfumnya yang dulu.
Aku mengangguk pelan. "Iya Mbak... sebentar ya"
Di gudang kecil. Hanya ada tumpukan kardus dan angin yang berhembus dari ventilasi.
Kami duduk berjauhan. Ia menggenggam tutup botol Aqua sampai putih.
"Aku nanya ke HRD dulu, Dek. Maaf kalau ngerepotin..."
"Aku sudah berpisah, Dek. Sudah setahun. Aku mencarimu... dari dulu."
Dadaku sesak.
Tanganku tanpa sadar mengusap perut.
"Aku... sedang hamil 2 bulan, Mas..." ucapku pelan.
Ia terdiam lama sekali.
Lalu tersenyum. Senyum yang patah.
"Aku terlambat ya, Dek..."
Aku menggeleng. Menahan air mata.
"Bukan terlambat, Mas. Jalan kita memang sudah berbeda. Aku sudah berkeluarga."
Ia mengangguk pelan. Berdiri.
"Jaga diri baik-baik ya, Dek"
Pintu tertutup. Ceklek.
Malamnya di rumah, aku pura-pura biasa saja.
Makan malam, nonton TV, bercanda sama Mas Bayu.
Tapi di dalam hati ada gelombang yang tidak bisa kuceritakan ke siapa-siapa.
Aku ke dapur saat semua sudah tidur.
Membuka lemari paling atas.
Mengeluarkan mug biru. Pinggirnya retak 3. Stiker Rp3.500 nya sudah hilang.
Kubuatkan teh. Uapnya naik ssss... sama seperti tahun 1995 dulu.
Ternyata...
ada orang yang mengajariku cara menunggu.
Dan ada orang yang mengajariku cara menyembunyikan luka.
Mug Biru di Rak Dapur
Sekarang tahun 2026. Aku 49 tahun.
Alhamdulillah aku dan Mas Bayu dikaruniai 4 orang anak.
Anak pertama kami laki-laki. Sekarang sudah 24 tahun. Kuliah semester akhir.
Namanya Dwi Setia Nugraha.
Nama itu kami yang kasih berdua dengan Mas Bayu.
"Setia" biar dia jadi anak yang setia, jujur, tanggung jawab.
Mas Bayu tidak pernah tahu... kalau di nama itu ada ceritaku yang dulu.
Rumah kami di Perumahan Griya, Batu Aji.
Dapurnya kecil. Ada jendela menghadap ke jemuran.
Di rak paling atas, di belakang toples gula dan teh,
masih ada mug biru itu.
Mug polos. Pinggirnya retak 3. Warnanya sudah pudar.
Ga ada nama. Ga ada tulisan.
Tidak pernah kupakai lagi. Hanya ditaruh di sana.
Setiap kali masak, mataku pasti melirik ke atas.
Melihat mug polos itu diam. Berdebu sedikit.
Seperti mengingatiku bahwa dulu pernah ada yang memperhatikan dari jauh.
Kadang Mas Bayu bertanya, "Itu mug dari mana? Kok ga pernah dipake?"
Aku jawab pelan, "Cuma buat pajangan. Sayang kalau dibuang."
Dia mengangguk. Tidak bertanya lagi.
Saksi bahwa pernah ada orang yang datang tanpa suara,
pergi tanpa pamit,
dan hanya meninggalkan sebuah mug polos.
Tidak ada yang tahu ceritanya.
Tidak Mas Bayu. Tidak anak-anakku. Tidak teman-teman.
Hanya aku, mug biru itu, dan Tuhan.
Hari ini hujan.
Aku duduk di teras sambil nyeruput teh dari gelas biasa.
Mataku menatap ke dalam, ke arah rak dapur.
Ke mug biru yang diam di sana.
Tidak ada yang kutunggu lagi.
Tidak ada yang harus disesali lagi.
Mug biru itu retak.
Tapi masih utuh di tempatnya.
Sama seperti kenangan itu. (Tamat)
Tentang Penulis
Lita Rinaldy adalah seorang ibu dari 4 orang anak.
Lahir di Bangka Belitung.
Pernah tinggal dan bekerja di Batam selama 8 tahun.
Di sanalah sebagian besar kisah dalam buku ini terjadi.
Saat ini beliau tinggal di Pekanbaru, Riau bersama keluarga.
Menulis adalah caranya menyimpan kenangan yang tidak bisa diceritakan kepada siapa-siapa.
"Mug Biru yang Retak" adalah kisah nyata yang ditulis dengan hati, tentang pertemuan singkat, penantian, dan sebuah mug biru polos yang tetap utuh sampai hari ini.
Bagi Lita, ada cerita yang tidak perlu diumumkan.
Cukup disimpan di rak paling atas, bersama teh, gula... dan Tuhan.












































