Senin, 17 Agustus 2026 - 19:26:34 WIB

Mafirion Minta Agrinas Selektif Pilih Mitra KSO, Jangan Abaikan Kepentingan Masyarakat

Mafirion

PEKANBARU — Anggota DPR RI Fraksi PKB Daerah Pemilihan (Dapil) Riau II, H. Mafirion, meminta PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) lebih selektif dalam menentukan mitra pengelola perkebunan. Ia mengingatkan agar kerja sama operasional (KSO) tidak diberikan kepada perusahaan yang mengabaikan kepentingan masyarakat maupun hak masyarakat adat.

Mafirion menyampaikan hal itu menyikapi masih terjadinya konflik dan bentrokan di sejumlah wilayah perkebunan di Riau yang melibatkan masyarakat dengan pihak pengelola kebun. Menurutnya, persoalan agraria tidak boleh kembali berulang setelah pengelolaan lahan beralih kepada Agrinas.

“Jangan sampai pergantian pengelola hanya mengganti nama perusahaan, tetapi persoalan dengan masyarakat tetap terjadi. Agrinas harus memastikan setiap perusahaan yang diberikan kepercayaan mengelola kebun benar-benar mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan menghormati hak-hak masyarakat adat,” ujar Mafirion.

Ia menegaskan, lahan yang dikelola Agrinas memiliki dimensi sosial yang besar. Karena itu, pengelolaan perkebunan tidak boleh hanya berorientasi pada produksi dan keuntungan, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi sekaligus kepastian hak bagi masyarakat sekitar.

“Kalau perusahaan penerima KSO mengabaikan masyarakat, memicu konflik, atau tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan masyarakat adat, jangan diberikan kepercayaan untuk mengelola kebun. Agrinas harus berani mengevaluasi dan menghentikan kerja sama dengan mitra yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegasnya.

Menurut Mafirion, sejumlah konflik perkebunan di Riau menunjukkan persoalan agraria masih menjadi pekerjaan rumah serius. Masalah tersebut mencakup penguasaan dan pengelolaan lahan, akses masyarakat terhadap kebun, hubungan dengan pekerja dan masyarakat sekitar, hingga persoalan hak masyarakat adat.

Di Rokan Hulu, misalnya, konflik pengelolaan perkebunan bahkan sempat berujung bentrokan antarkelompok setelah adanya pengambilalihan pengelolaan lahan dan penunjukan pihak KSO. Sementara itu, persoalan sengketa lahan di Tambusai Utara dan Kota Garo juga menjadi perhatian hingga dilakukan koordinasi antara Pemerintah Provinsi Riau dan Komnas HAM.

“Kita tidak ingin kebun yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan justru menjadi sumber konflik. Kehadiran Agrinas harus dirasakan sebagai kehadiran negara yang memberikan solusi, bukan menghadirkan persoalan baru di tengah masyarakat,” katanya.

Mafirion meminta Agrinas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh mitra pengelola, terutama perusahaan yang memiliki persoalan dengan masyarakat. Evaluasi tersebut, menurutnya, harus dilakukan secara objektif dengan melibatkan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, masyarakat adat, koperasi, serta pihak-pihak yang berkepentingan langsung dengan perkebunan.

Di sisi lain, Mafirion mengapresiasi rencana Agrinas memperluas keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan perkebunan. Agrinas sebelumnya menyampaikan bahwa pola KSO akan diarahkan menuju sistem vendor dengan tujuan memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.

“Perubahan pola kerja sama harus benar-benar menjadi perubahan paradigma. Masyarakat lokal jangan hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Mereka harus mendapatkan ruang untuk bekerja, menjadi bagian dari koperasi, menjadi mitra usaha dan memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan perkebunan tersebut,” ujarnya.

Ia menilai pengelolaan perkebunan negara harus mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, kemitraan, dan keberlanjutan. Terlebih, Agrinas telah menyatakan komitmennya membangun kemitraan yang inklusif, memberdayakan masyarakat, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar perkebunan.

“Agrinas adalah representasi negara dalam mengelola aset perkebunan. Karena itu, keberhasilan Agrinas bukan hanya diukur dari berapa banyak produksi dan keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa banyak konflik yang bisa diselesaikan dan seberapa besar kesejahteraan masyarakat meningkat,” tegas Mafirion.

Ia berharap Agrinas tidak ragu mengambil langkah tegas terhadap mitra yang gagal menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat.

“Jangan beri KSO kepada perusahaan yang tidak punya komitmen terhadap rakyat. Kebun harus menghasilkan, perusahaan harus sehat, tetapi masyarakat juga harus sejahtera. Itulah prinsip pengelolaan perkebunan yang berkeadilan,” tutup Mafirion.**

Berita terkini

BPD Kalteng dan BPD Sumut Studi Banding ke bank bjb

Sabtu, 12 Februari 2022 - 10:40:29 WIB

Dilantik Moeldoko, Wardan Resmi Pimpin HKTI Riau

Sabtu, 05 Februari 2022 - 05:40:59 WIB

Bupati Kasmarni Panen Raya di Desa Tanjung Belit Siak Kecil

Senin, 31 Januari 2022 - 19:51:13 WIB

Bupati Kasmarni Panen Raya di Desa Tanjung Belit Siak Kecil

Senin, 31 Januari 2022 - 18:45:06 WIB

Tahun 2022, bank bjb Optimis Lebih Cerah

Selasa, 18 Januari 2022 - 07:40:53 WIB

Musrembangdes Desa Pematang Tebih Utamakan Skala Prioritas

Rabu, 12 Januari 2022 - 11:55:26 WIB

Bupati Kasmarni Tutup Program Suluh Riau, ini Pesannya

Kamis, 06 Januari 2022 - 11:15:32 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+