Kamis, 16 Juli 2026 - 20:52:35 WIB

M Jayus : AI Permudah Pelaku Love Scam Membangun Identitas Palsu

M Jayus S Sos., M.I.Kom

PEKANBARU – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk menjalankan aksi penipuan dengan cara yang semakin meyakinkan. Melalui teknologi AI, pelaku love scam kini mampu membangun identitas palsu menggunakan foto, suara, hingga video yang tampak autentik sehingga semakin sulit dibedakan dari identitas asli.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (FIKOM UMRI), Jayus, S.Sos., M.I.Kom., saat menjadi narasumber pada Serial Bincang Literasi #38 bertajuk “Sosial Media dan Jerat Love Scam” yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau, Kamis 16 Juli 2026.

Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UMRI tersebut turut dihadiri Kepala UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau, Dwi Hastuti, S.E., M.M., serta beberapa dosen. Acara dipandu oleh Refnil Dalita, S.Pd. sebagai moderator, sementara Kartika Puspita Sari, S.IP., M.A. bertindak sebagai User Education.

Dalam paparannya, Jayus menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah cara manusia membangun hubungan. Jika dahulu relasi lebih banyak dibangun melalui interaksi langsung, kini kedekatan dapat terjalin hanya melalui sebuah akun media sosial. Perubahan pola komunikasi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku love scam untuk membangun kepercayaan sebelum akhirnya melakukan penipuan.

Menurutnya, pelaku tidak langsung meminta uang kepada calon korban. Mereka terlebih dahulu membangun komunikasi secara intens, memberikan perhatian, menunjukkan empati, hingga menciptakan ikatan emosional. Setelah korban merasa nyaman dan percaya, berbagai alasan kemudian digunakan untuk meminta bantuan finansial.

“Love scam tidak dimulai dengan permintaan uang, tetapi dimulai dengan membangun rasa percaya. Pelaku memahami bagaimana komunikasi dapat memengaruhi emosi seseorang. Ketika hubungan emosional sudah terbentuk, korban akan lebih mudah mempercayai apa pun yang disampaikan pelaku,” ujar Jayus.

Ia menuturkan bahwa kemajuan dalam kecerdasan buatan membuat bentuk penipuan kian sulit untuk dikenali. Dulu, pelaku hanya menggunakan gambar yang dicuri dari internet, tetapi kini mereka dapat memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan wajah yang tampak nyata, meniru suara orang tertentu (kloning suara), hingga memproduksi video palsu (deepfake) yang terlihat sangat meyakinkan.

"Kecerdasan Buatan memberikan banyak keuntungan bagi kehidupan manusia. Namun, di sisi lainnya, AI juga menciptakan lebih banyak kesempatan bagi pelaku kejahatan di dunia digital. Sekarang, foto, suara, dan bahkan video dapat dimanipulasi sehingga sulit untuk memverifikasi identitas seseorang. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih dari sekedar memahami teknologi; mereka juga perlu memiliki kemampuan literasi digital dan berpikir kritis agar tidak mudah terperangkap dalam penipuan di media sosial," jelasnya.

Jayus juga memberikan peringatan bahwa pelaku sering kali menciptakan identitas palsu dengan mengklaim profesi yang dianggap sangat kredibel oleh masyarakat, seperti anggota kepolisian, tentara, dokter, pilot, pekerja pertambangan, hingga wirausaha yang sukses. Menurutnya, yang digunakan oleh pelaku bukanlah profesi itu sendiri, melainkan reputasi positif yang melekat sehingga lebih mudah untuk mendapat kepercayaan dari calon korban.

Selain membahas berbagai bentuk penipuan cinta yang banyak terjadi di Indonesia, peserta juga diajak untuk mengenali tanda-tanda penipuan digital, pentingnya melindungi informasi pribadi, cara memverifikasi identitas seseorang di platform media sosial, serta langkah-langkah yang perlu diambil jika menjadi korban kejahatan siber.

Diskusi berlangsung dengan antusias dan interaktif. Minat peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan tentang berbagai modus penipuan yang berkembang di media sosial, penggunaan AI dalam kejahatan digital, hingga cara membedakan akun asli dengan akun yang palsu.

Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau, Dwi Hastuti, S.E., M.M., menyampaikan bahwa Serial Bincang Literasi merupakan salah satu usaha Perpustakaan UMRI untuk menghadirkan tema-tema yang relevan dengan era saat ini, sekaligus mendorong budaya literasi di kalangan sivitas akademik.

"Literasi di era digital tidak lagi sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan untuk memahami, memverifikasi, serta mengelola informasi dengan bijak dan bertanggung jawab. Kami berharap kegiatan ini dapat memperbesar kesadaran mahasiswa agar lebih kritis dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia digital,” ungkapnya.

Menutup pemaparannya, Jayus mengajak mahasiswa untuk membangun budaya "percaya setelah melakukan verifikasi" dalam setiap interaksi di media sosial.

"Media sosial tidak boleh dipandang sebagai musuh. Yang seharusnya kita waspadai adalah manipulasi identitas dan emosi. Jangan mudah percaya hanya karena ada foto profil, seragam, atau kata-kata manis. Biasakan untuk selalu memverifikasi sebelum mempercayai seseorang. Di zaman AI ini, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital menjadi benteng utama dalam melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan siber," tambahnya.

Melalui Serial Bincang Literasi 38, UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau terus berkomitmen untuk menyediakan ruang diskusi yang edukatif dan relevan dengan kemajuan teknologi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya literasi digital sebagai persiapan menghadapi berbagai tantangan komunikasi dan keamanan di era kecerdasan buatan.**

Berita terkini

Bikin Heboh! Dhika Aura Farming Hadir di Wisuda Unilak

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:15:58 WIB

Hadiri Yudisium Fahutsains, ini Pesan Dr Zamzami

Senin, 27 Oktober 2025 - 15:15:49 WIB

Catat Sejarah, Umri akan Mewisuda 1.349 Lulusan

Selasa, 21 Oktober 2025 - 16:55:41 WIB

1.349 Calon Wisudawan Umri mengikuti Baitul Arqam

Kamis, 16 Oktober 2025 - 11:35:25 WIB

Gelaran KKN Award UMRI Tutup Pelaksanaan KKN MAs 2025

Kamis, 11 September 2025 - 03:00:14 WIB

Diikuti 114 Mahasiswa, Fasilkom Unilak Gelar Yudisium ke-31

Kamis, 28 Agustus 2025 - 15:15:15 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+