Minggu, 24 Agustus 2025 - 06:36:19 WIB

Cerpen Abdul Wahid

Senja di Tepian Narosa

Candra pernah berjanji pada Maya akan menemaninya melihat matahari terbenam dari Tepian Narosa kala Senja, tempat pertama kali mereka bertemu dan jatuh cinta. Janji itu diucapkannya di bawah pohon rindang, di tepian Narosa yang tenang, dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Maya, penuh harapan.

HARI itu, Maya kembali menunggu di tepian Narosa, gaun merahnya berkibar tertiup angin sore. Matanya terus menatap ke arah jalan setapak yang biasa dilalui Candra. Namun, senja berlalu begitu cepat, warna jingga berubah menjadi lembayung, dan akhirnya gelap. Candra tidak kunjung datang.
Bulan berlalu tahun berganti, Maya waktu itu masih duduk dikelas dua SMA, saat rombongan mahasiswa KKN dari Perguruan Tinggi ternama di ibu kota propinsi datang ke desanya. Maya gadis desa yang manis penuh pesona membuat hati Candra salah seorang mahasiswa yang KKN kepincut, dan akhirnya Candra dan Maya berjanji untuk saling setia.

Namun lima tahun telah berlalu, Candra tak pernah menepati janji untuk menemui Maya saat perhelatan budaya Pacu Jalur tiba, karena kala itulah mereka memadu kasih. Setelah pulang KKN sampai akan selesai kuliah, Candra masih sering berkabar pada Maya, akan tetapi setelah wisuda Candra seperti hilang ditelan bumi. Maya kecewa, namun hatinya tetap menyimpan harapan. Dia tahu Candra akan datang menemuinya.

"Maafkan aku, Maya," suara lirih, mengejutkan Maya dari lamunannya. Dia menoleh dalam remangnya senja sambil menatap sosok lelaki yang selama ini dinanti berdiri dihadapannya. Maya tak berkedip tak kuasa bersuara, hanya tetes air mata yang berlahan keluar dari matanya yang indah.

"Aku tidak bisa memenuhi janji lima tahun sudah, hari ini aku datang menebusnya Maya" suara Candra bergetar sambil menggenggam tangan Maya.
"Tapi, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Mari kita tepati janji itu dengan cara yang berbeda. Kita akan pergi ke tempat yang selalu kamu impikan, melihat matahari terbenam di tempat yang jauh lebih indah."

Mereka berpelukan erat, air mata menggenang di mata. Janji yang diingkari itu telah berubah menjadi sebuah petualangan baru, sebuah bukti bahwa cinta sejati tidak harus sempurna, tetapi selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan menepati janji dengan cara yang lebih baik.

Mereka pun pergi, menyaksikan senja terbenam ditempat yang tak pernah mereka bayangkan, bersatu dalam janji yang baru dan lebih kuat.

Berita terkini

Berkunjung ke LAMR, GMC Raih Juara 3 Nasional

Kamis, 03 Januari 2019 - 00:00:00 WIB

SDN 63 Juara Pertama Panggung Zapin Meskom se Pekanbaru

Minggu, 07 Oktober 2018 - 00:00:00 WIB

Ini cara Unri Menunjukkan Kecintaan Terhadap Kebudayaan Melayu

Sabtu, 29 September 2018 - 00:00:00 WIB

Ini Dia Bujang dan Dara Bengkalis 2018

Rabu, 09 Mei 2018 - 00:00:00 WIB

Bersama Keluarga Warga Tionghoa Bengkalis Mendatangi Vihara

Jumat, 16 Februari 2018 - 00:00:00 WIB

Bupati Wardan Minta Grebeg Suro Terus Dilestarikan

Kamis, 05 Oktober 2017 - 00:00:00 WIB

Tampilkan Lukisan di Bali, Riau Usung Empat Sungai Besar

Senin, 28 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Berkunjung ke Siak, DMDI dan RTM Malaysia Lakukan hal ini

Sabtu, 12 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Gubri Buka Festival Permainan Rakyat

Rabu, 09 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Keberagaman Membuat Rohil Menjadi Maju

Kamis, 23 Maret 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+