Sabtu, 27 Maret 2021 - 11:00:27 WIB

Komoditas Unggulan Petani Milenial, Dinas TPH Jabar Rekomandasikan Tanaman Hias dan Ubi Jalar

Riaupunya.com -- Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat merekomendasikan tanaman hias sebagai komoditas unggulan bagi petani milenial. Hal itu agar hasil panen dapat terserap pasar maupun masuk pasar lokal, untuk subtitusi impor, dan pasar global.

Selain bernilai ekonomis tinggi dan tidak memerlukan lahan luas, tanaman hias diminati pasar internasional, seperti Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Inggris, Siprus, dan Kanada.

Kepala DTPH Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan, ada 12 jenis tanaman hias yang direkomendasikan, mulai dari homalomena merah, homalomena hijau, homalomena Papua, piper Papua, sampai raphidophora tenuis hijau.

“Selain memiliki peluang pasar, tanaman hias juga cukup efisien secara modal juga luas lahan. Karena dengan luas green house hanya 12 meter persegi dan modal usaha kurang lebih Rp50 juta, jika dihitung setiap bulan, bisa menghasilkan sekitar angka Rp16 juta untuk keuntungan petani milenial,” katanya

Menurut Dadan, selain tanaman hias, DTPH Jawa Barat juga merekomendasikan komoditas ubi jalar, karena memiliki peluang pasar ekspor, domestik, dan industri, yang sama besarnya.

“Kalau ubi jalar, per satu hektare berisi 1.000 polybag. Satu polybag itu terdiri dari 12 bibit. Jadi satu hektare itu, populasinya hampir 120 bibit. Ubi jalar menggunakan polybag karena produksinya dapat lebih tinggi,” ucapnya.

“Komoditas ini memiliki peluang pasar ekspor 30 persen, pasar domestik 30 persen, dan pasar industri olahan 40 persen. Ekspornya ke Hongkong, Abudabi dan Uni Emirat Arab,” tambahnya.

Dadan menjelaskan, bibit tanaman hias dan ubi jalar akan dipasok langsung oleh offtaker. Untuk tanaman hias, disiapkan sekitar 250 bibit pohon induk. Pemilihan bibit pun diserahkan kepada offtaker.

“Karena offtaker yang akan membeli kembali, pasti offtaker-nya akan memberi bibit itu yang sesuai dengan spesifikasi. Jadi kalau masalah bibit dan benih yang menyiapkan adalah offtaker-nya,” tuturnya.

“Bibit digaransi dan disiapkan yang terbaik karena offtaker juga harus mengisi peluang pasarnya. Kalau bicara pasar ekspor ada 3K yang harus dipertahankan yaitu kualitas, kuantitas, kontinuitas,” tambahnya.

Selain pemberian bibit, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan offtaker akan memberikan pendampingan yang tujuannya untuk memastikan proses budi daya sesuai dengan ketentuan-ketentuan untuk budidayanya.

“Contoh untuk ubi jalar, karena menggunakan polybag jadi tanahnya harus yang subur,” kata Dadan.(Humas Jabar)

Berita terkini

Sidak Elpiji 3 Kg, Disperindag Buru Pemasok Gas Kepada Pengecer

Senin, 11 September 2017 - 00:00:00 WIB

Penduduk Baru Dumai Bertambah 6 Ribu Jiwa

Senin, 11 September 2017 - 00:00:00 WIB

Danrem 031 WB akan Pulang kampung ke Kaiti Rokan Hulu

Jumat, 08 September 2017 - 00:00:00 WIB

Pemkab Kampar Konsultasi Program Pemberantasan Narkoba ke BNN

Kamis, 07 September 2017 - 00:00:00 WIB

Sekda Inhil Tinjau Pembangunan Ruas Jalan Teluk Pinang - Gaung

Kamis, 07 September 2017 - 00:00:00 WIB

Gas Melon Langka, Disperindag Pekanbaru Lakukan Operasi Pasar

Kamis, 07 September 2017 - 00:00:00 WIB

Rasionalisasi Usulan Kegiatan RAPBD-P 2017

Rabu, 06 September 2017 - 00:00:00 WIB

Riau Inflasi 0,24 Persen pada Agustus 2017, ini Penyebabnya

Senin, 04 September 2017 - 00:00:00 WIB
Komunitas Puan Lisa

Fahriza: Saatnya Kaum Hawa Peduli Sampah

Senin, 28 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Wako Dumai Minta Pemantauan Kondisi Lingkungan di Tingkatkan

Senin, 28 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Ditengahi Yopi Arianto, Kisruh KNPI Inhu Mereda

Jumat, 25 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Nisa Juara Pertama Lomba Mendongeng se-Kabupaten Bengkalis

Kamis, 24 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+