Sarjana Pengangguran, Masalah Sektor Pendidikan dan Industri
Riaupunya.com -- Masih banyaknya sarjana yang menganggur menjadi masalah di sektor pendidikan dan industri. Sebab, industri merasa lulusan tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan sementara institusi pendidikan merasa sudah memberikan materi sesuai dengan kurikulum.
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Intan Ahmad menjelaskan, berdasarkan data, lebih dari 50 persen lulusan perguruan tinggi sudah memperoleh pekerjaan yang sesuai. Namun, data tersebut belum secara sensitif melihat kecocokan pekerjaan dengan level sarjananya.
"Di Indonesia dari semua lapangan kerja yang tersedia, yang merupakan lulusan universitas tidak lebih dari sekira 11 persen. Bayangkan sedangkan Malaysia sudah mencapai 20 persen," tuturnya ditemui di Kemdikbud, Jakarta, Rabu 8 Maret 2017.
Untuk itu, lanjut dia, setiap lulusan perguruan tinggi harus bisa bersaing, terlebih sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurut dia, selain ada upaya dari pemerintah, orangtua juga harus mendorong anaknya supaya lulus dengan hasil yang baik.
"Kontribusi para lulusan dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa dilihat dengan produktivitasnya, apakah setelah lulusan bekerja dengan baik atau tidak. Artinya lulus dengan kualifikasi tinggi sehingga tidak menjadi pengangguran," sebutnya.
Sementara Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan nasional (Bappenas) Amich Alhumami menyebut, saat ini anggaran untuk pendidikan adalah 20 persen dari APBN. Anggaran itu, kata dia, diutamakan untuk peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan.
"Ya, di sisi lain kita harus memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas, tetapi di sisi lain meningkatkan partisipasi. Saat ini APK baru 29,9 persen," tandasnya.
Sumber: Okezone.com

































