Dihadapan 992 Wisudawan, Rektor UMRI Bicara Falsafah Toga
RiauPunya.com -- Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda XXIII Sarjana dan Diploma III digelar di SKA Co Ex Pekanbaru, Sabtu 5 Nopember 2022. Sebanyak 992 wisudawan dikukuhkan dalam acara wisuda yang mengusung konsep Islami dan budaya Melayu tersebut.
Lagu Lancang Kuning mengiringi anggota senat universitas saat masuk ke ruangan. Menurut Rektor UMRI, DR. Saidul Amin, MA, lagu ini sarat akan makna. Di antaranya, menyatakan bahwa orang-orang yang bijaklah yang akan sampai ke tujuan dengan baik.
Rektor dalam sambutannya berharap usai wisuda, peserta langsung menjadi alumni. Pada para alumni ini, ia berharap agar ilmu yang didapat di kampus bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.
"Mereka juga harus bisa menjadi miniatur dan duta Muhammadiyah di tengah masyarakat. Menjernihkan yang keruh dan memurnikan yang kusut," ungkap Rektor.
Pada kesempatan ini, sebagai rektor Saidul mengucapkan tahniah kepada seluruh wisudawan yang telah menyelesaikan proses pembelajaran sehingga kini menjadi sarjana. Proses sarjana, menurutnya, ditunjukkan dengan memindahkan kucir pada toga.
Dia menyebut, toga itu punya falsafah yang sangat tinggi. Karena, dari segi sejarah, sesungguhnya toga merupakan produk umat Islam. Salah satunya mazhab Toledo pada masa kejayaan Islam di Andalusia. Menurut Rektor, toga yang bentuknya segi empat ini merupakan simbol kitab suci Alquran yang berada di atas kepala para wisudawan.
Di UMRI, tambahnya, para wisudawan diberi tiga bekal. Yaitu, iman, ilmu dan keterampilan. Dengan iman, sekuat apapun cobaan maka sarjana tetap kokoh pada kebenaran. Berpegang pada Alquran dan Sunnah agar tidak tersesat.
Sementara, dengan ilmu akan membuat anda mampu berpikir kreatif, mengurai masalah yang kusut. Karena orang berilmu tak akan sama dengan yang tidak berilmu.
Kemudian dengan keterampilannya, membuat para wisudawan menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Setelah kembali ke masyarakat, para wisudawan akan menjadi miniatur dan duta Muhammadiyah.
Ditambahkan Rektor, wisudawan juga mesti mengingat jasa para orang tua. Karena, keberhasilan saat ini tidak terjadi begitu saja. Ada ibu yang tiap hari tak pernah lelah berdoa dan ayah yang tak putus berusaha dengan jiwa serta raga.
Ditambahkan Rektor, perkembangan sains saat ini membuat dunia pendidikan sangat berubah. Revolusi industri 4.0 membuat perkembangan teknologi digital sangat besar. Berbagai informasi kini hanya sejauh ujung jari.
Apabila tidak berubah, maka akan digilas perubahan. Karenanya dosen tidak hanya bisa mentransformasikan keilmuan. Tapi harus mampu menitipkan ruh agama, mendidik, memotivasi dan mencerahkan. Dosen juga harus menjadi suri tauladan pada mahasiswanya. Karena ini yang tidak bisa ditiru oleh robot. (lan)





























































