Rabu, 21 Oktober 2020 - 08:58:00 WIB

Perkembangan Pembahasan Stimulus AS Angkat Harga Minyak 

RIAUPUNYA--Harga minyak naik lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Selasa (20/10) waktu AS atau Rabu (21/10) WIB. Kenaikan terjadi ketika pembahasan stimulus ekonomi AS mendekati kesepakatan.

Tetapi ancaman penurunan permintaan minyak akibat melonjaknya kasus covid-19 di seluruh dunia dan kebijakan Libya mengerek produksi membatasi kenaikan itu.

Dikutip dari Antara, Rabu (21/10), harga minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November ditutup pada level US$41,46 per barel atau naik 1,54 persen dibanding hari sebelumnya.

Terbentuk, IFG Jadi Induk
Sementara itu untuk minyak jenis WTI untuk kontrak pengiriman Desember naik ke level US$41,70 per barel.

John Kilduff, mitra di Again Capital di New York mengatakan perhatian pasar sekarang ini tertuju pada proses negosiasi antara Ketua DPR AS Nancy Pelosi dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengenai paket bantuan atau stimulus virus corona di Negeri Paman Sam.

"Jika kita mendapatkan kesepakatan, saya pikir itu akan mendukung. Sebaliknya, jika tidak mendapatkan kesepakatan, saya pikir itu akan cukup merugikan harga," kata Kilduff.

Harga naik setelah Pelosi mengatakan dia optimistis Demokrat bisa mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih supaya paket stimulus bisa digelontorkan awal bulan nanti. Dia menambahkan arah kesepakatan harus dicapai pada Selasa (20/10/2020) malam.

Namun, skeptisisme atas dampak kesepakatan di pasar minyak tetap ada.

"Meskipun memungkinkan paket stimulus baru, selera risiko dapat terpukul dari terungkapnya fenomena 'beli rumor/jual berita'," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates.

Rebound dalam kasus covid-19 di Eropa dan Amerika Utara telah memicu sejumlah negara menerapkan lockdown baru. Itu membuat harga tidak bergerak lebih tinggi lagi.

Di tengah kondisi itu, panel menteri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya berjanji untuk mendukung pasar dalam menghadapi pukulan pandemi terhadap permintaan.


Namun, di tengah janji itu, mereka justru mengurangi rencana pemotongan produksi minyaknya dari 7,7 juta barel per hari (bph) menjadi sekitar 5,7 juta barel per hari pada Januari mendatang.

Libya yang dibebaskan dari pemotongan, juga menyatakan akan meningkatkan produksi setelah konflik bersenjata menutup hampir semua produksi negara itu pada Januari lalu dan memompa lebih banyak minyak ke pasar yang kelebihan pasokan.

Kebijakan itu menambah kekhawatiran pasar. Pasalnya, persediaan minyak mentah AS sedang naik 584 barel dalam sepekan menjadi sekitar 490,6 juta barel.(CNNIndonesia/Wal)

Berita terkini

Babinsa Kelurahan Tanahdatar Kawal Tim Nakes Gelar Tes Swab

Minggu, 18 Oktober 2020 - 08:50:26 WIB

Babinsa Imbau Pengunjung RTH Kaca Mayang Gunakan Masker

Sabtu, 17 Oktober 2020 - 11:54:04 WIB

Bekas Satelit Rusia dan Roket China Tabrakan Pagi Ini

Jumat, 16 Oktober 2020 - 07:53:46 WIB

Pemerintah Masih Tetapkan 28 dan 30 Oktober Cuti Bersama 

Jumat, 16 Oktober 2020 - 07:50:07 WIB

Nota Pembelaan Amril Mukminin Menebus Khilaf dengan Ikhlas

Kamis, 15 Oktober 2020 - 23:47:10 WIB

Pendaftar Kartu Pra Kerja Gelombang 10 Capai 35,1 Juta 

Senin, 12 Oktober 2020 - 08:43:07 WIB

Manfaat Minum Susu: Tinggi Kalsium Hingga Kuatkan Imun Tubuh

Senin, 12 Oktober 2020 - 08:40:35 WIB

Babinsa Kelurahan Sukaramai Komsos ke Warga di Jalan Karet 

Sabtu, 10 Oktober 2020 - 09:02:24 WIB

Armenia Tuduh Pasukan Azerbaijan Tembaki Gereja Bersejarah 

Jumat, 09 Oktober 2020 - 03:51:01 WIB

Sikap Trump Tekan Harga Minyak Dunia 

Kamis, 08 Oktober 2020 - 08:43:23 WIB

Cara Menghitung UMP 2021 Setelah Ada UU Ciptaker 

Kamis, 08 Oktober 2020 - 08:41:26 WIB

Agustus 2020, Ekspor Riau Naik 1,01 Persen

Kamis, 01 Oktober 2020 - 16:20:55 WIB

Pemko Pekanbaru Proses Surat Penutupan S Club 

Senin, 14 September 2020 - 20:20:40 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+

Advertorial

Oleh: Abdul Wahid

Oleh: Abdul Wahid

Sabtu, 30 Mei 2026 - 22:12:20 WIB