Kamis, 04 Juni 2026 - 20:15:59 WIB

Oleh: Firdaus*

Geliat Bayang-Bayang Sang Mantan

Firdaus

Langkah politik Joko Widodo memperkuat PSI di daerah memicu alarm bagi stabilitas kabinet. Isu perombakan kabinet (reshuffle) Juni ini mencuat sebagai upaya meredam gejolak di akar rumput dan menjinakkan liarnya kurs dolar.

DI BAWAH langit daerah yang kian temaram, piring-piring nasi rakyat makin menyusut. Tekanan ekonomi, melambungnya harga barang pokok, dan redupnya daya beli bermuara pada satu muara yang sama: penurunan kualitas hidup masyarakat di daerah. Namun, potret buram di lapisan bawah ini kontras dengan apa yang terpampang di etalase media sosial para elite. Di ibu kota dan pusat-pusat kekuasaan, para aktivis partai yang memiliki kedekatan dengan lingkaran istana—baik rezim terdahulu maupun sekarang—justru pamer gaya hidup megah yang mencolok mata.

Disparitas ekonomi ini ibarat sekam kering yang siap menyala. Di tengah kerentanan sosial tersebut, sebuah letup provokatif justru datang dari Solo. Pernyataan mantan Presiden Joko Widodo yang secara terbuka menyatakan bakal turun gunung ke tingkat kota dan kabupaten demi memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai banyak pihak sebagai langkah yang kurang sensitif.

Sejumlah analis politik melihat keberanian Jokowi bersikap jemawa bukan tanpa modal. Meski tak lagi bersemayam di Istana Negara, sang mantan presiden diduga masih memegang kendali atas jejaring informal yang masif. Ia dinilai dengan mudah dapat menggerakkan konsolidasi politik di daerah menggunakan sisa-sisa pengaruh network kekuasaan lamanya.

Bagi sebagian kalangan, manuver ini bukan lagi sekadar konsolidasi internal partai, melainkan sebuah bentuk unjuk kuasa dan provokasi politik terbuka. Di ruang publik, persepsi mengkristal: Jokowi terkesan masih mampu menggerakkan instrumen kekuasaan hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Kecurigaan pun merebak bahwa kementerian atau lembaga negara yang memiliki struktur vertikal di daerah ikut memfasilitasi gerakan politik ini. Maklum, banyak pimpinan lembaga vertikal tersebut merupakan figur-figur yang ditunjuk langsung pada masa sepuluh tahun Jokowi berkuasa.

Dampak dari gesekan ini mulai terasa di lapangan. Hubungan kausalitasnya mungkin masih diperdebatkan, namun realitasnya gerakan mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan, mulai bergerak turun ke jalan. Mereka menyuarakan penolakan keras terhadap PSI dan mengecam kedatangan Jokowi ke tanah Daeng.

Gelombang penolakan ini melempar ingatan publik pada peristiwa demonstrasi besar pada Agustus tahun lalu. Saat itu, kemarahan publik atas karpet merah politik dinasti nyaris membakar legitimasi politik nasional.

Pertanyaannya kini: akankah para pimpinan negeri ini memiliki sensitivitas untuk menahan diri? Ataukah mereka memilih abai hingga memicu ledakan sosial yang jauh lebih besar dari Agustus silam?

Meski badai politik Agustus lalu tidak sampai meruntuhkan struktur pimpinan DPR RI, situasi hari ini memberikan alasan yang cukup kuat bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi total.

Penataan ulang struktur pimpinan, kementerian, dan lembaga dinilai mendesak demi memulihkan kepercayaan publik.

Rencana perombakan kabinet (reshuffle) pada Juni ini semestinya menjadi momentum emas. Untuk memperkuat stabilitas domestik dan keamanan dalam negeri, muncul opsi strategis: menaikkan kelas Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjadi Menteri Koordinator, sementara posisi Mendagri diisi oleh figur sekoci politik yang kuat seperti Sufmi Dasco Ahmad. Pergeseran ini, bersamaan dengan penggantian beberapa menteri sekunder serta kepala badan teknis, diharapkan mampu menyuntikkan energi baru bagi pemerintahan.

Sebab, musuh utama pemerintah saat ini bukanlah oposisi politik, melainkan indikator makro ekonomi yang terus memerah. Kabinet baru hasil reshuffle harus segera menyingsingkan lengan baju untuk fokus pada satu target utama: menjinakkan liarnya kurs dolar terhadap rupiah dan memotong rantai mahalnya harga-harga kebutuhan pokok di pasar.

Jika tidak, sekam kering di daerah-daerah akan benar-benar berubah menjadi api.

*Penulis adalah Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)

Berita terkini

Oleh : Abdul Wahid*

MEMILIH TAKDIR

Minggu, 04 Februari 2024 - 22:45:48 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

Menjaga DEMOKRASI Mencintai NKRI

Rabu, 24 Januari 2024 - 08:40:36 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

DEBAT yang DIPERDEBATKAN

Senin, 25 Desember 2023 - 23:10:30 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

30 September 65

Sabtu, 30 September 2023 - 09:05:21 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

"Simalakama" SK P3K

Selasa, 29 Agustus 2023 - 06:10:35 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

KEMERDEKAAN

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 05:00:53 WIB
Oleh : Dr.H.Bagus Santoso

Bengkalis Negeri Jelapang Padi

Minggu, 30 Juli 2023 - 11:05:50 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

Mengulas Curhatan Jemaah Haji 1444 H

Jumat, 28 Juli 2023 - 06:20:21 WIB

Tahniah Hari jadi Bengkalis

Selasa, 25 Juli 2023 - 15:47:05 WIB

Prospek Wisata Hutan Mangrove di Pulau Rupat

Jumat, 21 Juli 2023 - 13:49:34 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

KOMPETISI

Minggu, 04 Juni 2023 - 17:40:58 WIB
Oleh : Abdul Wahid

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Minggu, 30 April 2023 - 12:30:10 WIB
Oleh : Abdul Wahid

SYAWAL Meningkat atau Menurun

Kamis, 20 April 2023 - 10:15:06 WIB
Oleh: Abdul Wahid*

LAILATUL QADAR

Senin, 17 April 2023 - 07:00:33 WIB
Oleh: Abdul Wahid

Tarawih

Sabtu, 01 April 2023 - 23:30:15 WIB
Oleh : H Abdul Kudus Zaini

Mata Adalah Pelopor Syahwat

Rabu, 29 Maret 2023 - 10:41:22 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+