Cerpen Abdul Wahid
Setetes Air Hujan Diujung Kemarau
MUSIM kemarau kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Langit biru jernih tanpa awan seolah jadi saksi bisu betapa gersangnya desa kami di penghujung Juli ini. Tanah persawahan pecah-pecah, debu beterbangan di jalan setapak, dan matahari bersinar terik, seakan membakar segala harapan akan datangnya hujan. Di tengah kegersangan itu, ada secercah kesejukan yang kurindukan: senyummu, Andi.
Sore itu, seperti biasa, aku membantumu mengairi tanaman sayur di kebun belakang rumahmu dengan air dari sumur desa yang semakin dangkal. Kita melakukannya dengan ember, bolak-balik di bawah terik mentari yang menyengat kulit. Kaos tipis yang kaukenakan basah oleh peluh, menampakkan punggungmu yang bidang. Aku pura-pura sibuk dengan selang air, padahal diam-diam mencuri pandang ke arahmu.
"Lelah, May?" tanyamu, menyeka keringat di dahimu dengan punggung tangan.
Aku menggeleng, "Belum. Tapi kasihan tanamannya, Andi. Air sumur kita sudah mulai keruh."
Kau tersenyum lembut, senyum yang selalu berhasil meredam panas di hatiku. "Namanya juga perjuangan, May. Sama seperti perjuanganku mendapatkan hatimu."
Pipiku merona. Andi memang jago membuatku salah tingkah. Kami sudah berteman sejak kecil, dan perasaan ini tumbuh seiring waktu, sekuat akar pohon mangga di depan rumahmu. Tapi, entah mengapa, musim kemarau seolah menjadi metafora untuk hubungan kami; dekat, tapi terasa gersang karena belum ada kepastian.
"Gombal," balasku singkat, mencoba terdengar acuh tak acuh.
"Siapa bilang gombal?" Kau berjalan mendekatiku, jarak kami tinggal beberapa jengkal. Aku bisa merasakan hawa panas tubuhmu. "Aku serius, May. Kemarau ini mungkin panjang, tapi perasaanku padamu tidak akan pernah kering."
Jantungku berdegup kencang. Ini pertama kalinya kau berbicara sejelas ini. Aku menundukkan kepala, memandangi tanah kering yang kami siram.
"Aku... aku juga merasakan hal yang sama, Andi," bisikku pelan, hampir tak terdengar.
Kau meraih tanganku, jemarimu yang kapalan karena kerja keras terasa hangat di kulitku. Kau mengangkat daguku perlahan, membuat mata kami bertemu. Di matamu, aku melihat ketulusan yang selama ini kuharapkan.
"Bulan depan, saat panen tiba, aku akan datang ke rumah bapakmu," ujarmu mantap.
Kalimat itu bagai setetes air hujan pertama yang jatuh ke tanah kering, membawa kesejukan dan harapan. Kemarau mungkin masih akan berlangsung beberapa waktu, tapi kini aku tahu, di penghujung musim gersang ini, akan ada musim semi yang indah untuk kisah cinta kami.



































