Kamis, 18 Mei 2023 - 11:50:20 WIB

Mengatasi Budaya Mencontek dan Kecurangan Dikalangan Pelajar

Jumiati, S.Pdi

DI INDONEISA kecurangan sudah melanda berbagai aspek mulai dari Politik. Pekerjaan sampai yang paling menyedihkan adalah kecurangan pada dunia pendidikkan, entah dan mana mulanya kecurangan dimulai yang jelas kecurangan seperti mencontek sudah menjadi budaya atau yang lebih tepatnya dibudayakan. Menurut saya ada beberapa kegelisahan yang dirasakan pelajar sehingga lebih memilik mencontek sebagai pilihan terakhir yang harus ditempuh.

Berbicara tentang mencontek mungkin akan banyak memunculkan Pertanyaan kenapa menyontek itu bisa terjadi? apa dampak bagi Pelajar yang sudah terbiasa menyontek? kenapa prilaku mencontek itu tidak dapat dihilangkan dan bahkan sudah menjadi tradisi? Setiap Individu atau pelajar yang menginginkan prestasi belajar yang baik karena keinginan untuk berprestasi tersebut, segala cara pun dilakukan baik tu cara positif maupun negatif.

Cara positifnya bisa dimulai belajar dengan tekun dan jujur serta percaya diri saat mengerjakan ujian atau tes akademik lainnya. Sedangkan Cara negatifnya adalah dengan cara mencontek. Selain keinginan untuk berprestasi masih banyak lagi alasan yang menyebabkan seseorang Mencontek seperti ingin menghindari kegagalan tekanan dari teman sebaya maupun dari orang tua dan tidak percaya diri ketika mengikuti ujian. Siswa juga mempersepsi bahwa prestasi itu adalah sebuah Keberuntungan dan mempersepsi menyontek merupakan hal yang sudah biasa.

Menyontek dapat juga terkait dengan pembentukan kode moral. menurut teori Perkembangan moral kohlberq prilaku menyontek lebih terkait dengan Masalah pembentukan kode moral.

Menyontek dapat merugikan diri sendiri dan orang lain menyontek dapat mengikis pribadi jujur dalam diri seseorang pelajar, dapat menghambat seseorang pelajar mengoptimalkan kemampuannya dalam belajar dan memperoleh hasil belajar. prilaku menyontek dapat juga menyebabkan ketidak adilan pada proses penilaian apakah nilai yang didapat dan hasil menyontek itu bisa menjamin dan dapat digunakan untuk masa depan pelajar tersebut?

Sebagai contoh adalah nilai Ujian akhir masih jadi tolak ukur standar kelulusan siswa. padahal pada beberapa aspek yang membuat pelajar disuatu kondisi mendapatkan nilai yang tidak memuaskan Pada ujian akhirnya. Justru pada ujian ini malah banyak orang yang dalam kesehariannya malas justru mendapat nilai yang fantastis. Seperti yang dikutip dalam sebuah artikel di internet yang mengatakan bahwa "Ujian Nasional (UN) merupakan suatu bentuk pemetaan kualitas pendidikan diberbagai daerah diindonesia".

UN Merupakan komponen kelulusan yang sangat penting perlu persiapan yang matang dalam menghadapinya. namun bentuk pemetaan kualitas pendidikan tidak akan tercapai sesuai harapan jika ujian nasional dibarengi dengan tindak kecurangan. Hal ini membuktikan bahwa betapa kejujuran menjadi barang langka didunia pendidikan kita.

Sebagai contoh tindak kecurangan yang sangat jelas terlihat adalah terjadi pada tahun 2008 sampai dengan 2014 dimana provinsi Riau mendapatkan nilai UN yang cukup bagus ditambah lagi dengan rata-rata nasional, tetapi begitu belum diimbangi dengan kompetensi yang baik, artinya pelajar itu memperoleh nilai yang tinggi tetapi masih ditanyakan proses untuk mencapai nilai itu sendiri. ketika pemerintah mencanangkan kejujuran pada tahun berikutnya, hanya beberapa persen yang lulus dengan nilai diambang batas nilai nasional. UN memang bukan satu-satunya Penentu kelulusan, namun hasil UN sangat berpengaruh terhadap masa depan anak-anak bangsa selanjutnya dalam mengenyam pendidikan.

Oleh karena itu banyak yang harus diperbaiki dunia pendidikan negeri ini dan untuk itu perlu kerjasama dari banyak pihak untuk menyukseskannya mulai dan tenaga pengajar, institusi terikat dan yang terpenting adalah pelajar itu sendiri.

Sebaiknya kita berpatokan pada dunia eropa dalam dunia pendidikan buat sebuah pembelajaran tidak melelahkan seperti sekarang. lebih baik santai dan tidak terlalu lama dalam kelas dari pada serius dan lama yang malah membuat pelajar dipaksa terus berpikir keras yang Justru membuat pelajar itu sendiri menerima Ilmu dengan setengah hati. kalau sudah demikian malah tidak bisa mengerjakan Soal-soal ujian pada akhirnya.

Perbanyak juga pelajaran yang berbau moral sehingga dapat mengurangi kecurangan-kecurangan yang tadinya ingin dilakukan. Jika itu di terapkan pasti para pelajar pun akan berpresepsi bahwa hanya siswa yang bersunggun-sungguh dapat meraih angka yang baik, hanya dengan belajar dengan sepenuh hati barulah kelulusan dapat tercapai.

Upaya memperoleh nilai akademis harus ditempuh dengan cara-cara yang bermartabat, bukan dengan kecurangan yang harus diperhatikan adalah proses bukan hasil karena tidak akan ada hasil yang baik. Jika tidak diiringi dengan proses yang baik pula. Jika masih banyak Siswa-siswi yang mencontek bisa dipastikan praktek korupsi tidak akan pernah hilang dari peradaban Indonesia. Sebagai seorang pendidik sudah seharusnya menjelaskan dan menasehati pengaruh dan dampak dari prilaku menyontek dimasa yang akan datang. Semoga kita bisa.


*Jumiati, S.Pdi (Guru SD Negeri 020 Rambah)

Berita terkini

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+