Empat Pemateri dari Tiga Negara
FAI UIR Bahas Prospek Ekonomi Syariah Pasca MEA
RiauPunya.com -- Prodi Ekonomi Islam, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Riau (UIR) menggelar seminar internasional dengan tema "Prospek Eknomi Islam Pasca Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Seminar ini menghadirkan empat pemateri dari tiga negara, Yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand, Senin 6 Februari 2017, kemarin.
Empat pemateri yang terlibat tersebut adalah, Dekan FAI UIR Dr. Zulkifli Rusby, Dr. Abdullah Rasyd Abdulah dari Narathiwat University Thailand, Prof. Dr. Abdullah Abdul Gani dari Universiti Utara Malaysia, dan Azizurrahman dari Kolej Yayasan Pahang-Malaysia.
Seminar internasional ini, dibuka langsung oleh Rektor UIR, Prof. Dr. Detri Karya, SE, MA. Dalam sambutannya, ia mengapresiasikan yang dilakukan Prodi Ekonomi Islam yang telah melaksanakan seminar internasional.
Dia mengharapkan kedepannya banyak lagi prodi-prodi di UIR melaksanakan seminar internasional yang isu yang berbeda pula.Rekto UIR, dalam sambutannya juga mengatakan, bahwa seminar dengan tema Prospek Ekonomi Islam di Era MEA, adalah isu yang hangat.
Sebab katanya negara-negara ASEAN dengan jumlah penduduk sekitar 500 juta jiwa dan sebahagian besar beragama Islam pertumbuhan lembaga ekonomi Islam belum terlalu berkembang, bahkan di negara yang mayoriti penduduknya beragama Islam.
"Sekitar 60 persen masyarakat ASEAN adalah muslim, lalu kenapa ekonomi Islam tidak muncul?,"katanya.
"Di Indonesia lembaga syariah baru tumbuh sekitar 5 persen," sambungnya.
Melalui seminar ini, Rektor UIR sangat mengharapkan muncul ide-ide yang mampu mengembangkan ekonomi syariah di ASEAN. "Melalui seminar seperti inilah harapan kita ekonomi syariah terus tumbuh dan berkembang di negara-negara ASEAN ini,"katanya.
Menurut Rektor UIR, Ekonomi Islam, sangat berbeda dengan ekonomi konvensional yang selama ini berkembang pesat. Dalam ekonomi Islam, bukan masalah ekonomi semata yang dibahas, tai ada nilai lain, seperti nilai kerohanian yang ia bangun, masalah kejujuran, transfaran dan lain sebagainya yang tidak dijumpai pada sistem ekonomi konvensional.
"Mulai sekarang akan menjadi tugas berat bagi kita bagaimana kita menerapkan prinsip-prinsip ekonomi syariah baik di Indonesia, negara-negara mayoritas muslim maupun di seluruh negara ASEAN ini,"katanya. (rls)






































