Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:40:30 WIB

Cerpen;  Abdul Wahid 

Teman  Kecil Ku Aminudin 

ADA masa dalam hidup yang tidak akan pernah bisa terulang kembali. Masa ketika dunia terasa begitu luas, hari-hari terasa begitu panjang, dan kebahagiaan bisa ditemukan dari hal-hal sederhana. Masa itu adalah masa kecilku di Kampung Sialang Dua Dahan, sebuah kampung yang menyimpan begitu banyak kenangan indah di tepian Sungai Indragiri.

Di kampung itulah aku tumbuh, mengenal kehidupan, belajar tentang persahabatan, dan mengukir kenangan bersama seorang teman masa kecilku yang bernama Aminudin, yang biasa kupamggil Amin.

Aminudin bukan sekadar teman bermain. Ia adalah bagian dari perjalanan masa kecilku, teman yang bersama-sama merasakan suka dan duka, berlari di jalan kampung, bermain di bawah terik matahari, dan pulang ke rumah ketika senja mulai turun di ufuk barat.

Bersamanya, masa kecil terasa begitu indah, sederhana, dan penuh cerita.

Bermain Kelereng di TanahLapang

Aku masih membayangkan suasana pagi atau sore hari ketika aku dan Amin berkumpul bersama kawan-kawan sebaya. Kami membawa kelereng masing-masing, lalu mencari tanah yang cocok untuk bermain.

Dengan penuh semangat, kami membuat lubang kecil di tanah. Permainan pun dimulai. Kami membidik kelereng lawan, menahan napas, lalu melepaskan jentikan jari dengan harapan kelereng kami mengenai sasaran.

Namanya permaianan ada kalahdan menang, terkadang Amin yang lebih beruntung. Kalau menang, kami bersorak gembira. Kalau kalah, kami tertawa, lalu mencoba bermain lagi.

Tidak ada mainan mahal, tidak ada telepon genggam, dan tidak ada permainan canggih seperti anak-anak zaman sekarang. Hanya beberapa butir kelereng, tanah lapang, dan tawa yang tidak pernah habis. Begitulah kebahagiaan kami. Sesuatu yang sekarang mungkin terlihat kecil, tetapi dahulu terasa sangat berharga.

Berenang di Sungai Indragiri

Sungai Indragiri adalah bagian penting dari kenangan masa kecilku. Sungai itu bukan hanya hamparan air yang mengalir membelah alam, tetapi juga tempat kami belajar, bermain, dan merasakan kebebasan.

Pada hari-hari yang panas, aku dan Amin sering berenangmenyenangkan diri,bermain air di sungai. Kami datang bersama teman-teman, menikmati kesejukan air, bercanda, dan saling memanggil dari tepi sungai.

Air sungai yang luas, pepohonan di sepanjang tepian, dan suara alam menjadi bagian dari kehidupan kami sehari-hari.

Kadang-kadang kami berlomba berenang, saling menggoda, dan tertawa ketika ada yang membuat ulah. Bagi kami, sungai itu seperti taman bermain yang diberikan oleh alam.

Namun, di balik semua kegembiraan itu, Sungai Indragiri juga mengajarkan kami untuk menghormati alam. Sungai yang terlihat tenang tetap menyimpan arus dan kedalaman yang harus diwaspadai.

Kini, apabila teringat Sungai Indragiri, yang muncul dalam pikiranku bukan hanya airnya, tetapi juga wajah-wajah sahabat masa kecil, termasuk Amin, yang pernah berbagi kebahagiaan di tepian sungai itu.

Menggembala kambing di padang rumput

Selain bermain kelereng dan berenang, ada satu lagi kegiatan yang menjadi bagian dari kehidupan kami, menggembala kambing.

Pada siang hari sepulang sekolah dasar, tiba waktunya membawa kambing mencari rumput, aku dan Amin menjalankan tugas itu. Kami mengiringi kambing menuju tanah lapang, semak-semak, atau tempat yang banyak ditumbuhi rumput.

Sambil mengawasi kambing, kami berbual tentang banyak hal. Kadang-kadang kami membuat permainan sendiri, mencari buah-buahan yang bisa dimakan, atau berlari mengejar kambing yang menjauh dari rombongan.

Ada saja tingkah kambing yang membuat kami tertawa. Ketika seekor kambing berjalan terlalu jauh, kami bergegas mengejarnya. Ketika semuanya berkumpul dan makan rumput, kami duduk beristirahat di bawah pohon, menikmati angin kampung yang berembus perlahan.

Saat itu kami mungkin belum memahami arti tanggung jawab secara mendalam. Namun, dari kegiatan sederhana itulah kami belajar menjaga amanah, saling membantu, dan tidak meninggalkan pekerjaan begitu saja.

Menggembala kambing bukan hanya pekerjaan kecil bagi anak kampung. Di sanalah kami belajar tentang kehidupan, persahabatan, dan kemandirian.

Petualangan kecil yang tidak pernah membosankan

Di Kampung Sialang Dua Dahan, selalu ada sesuatu yang bisa kami lakukan. Hari-hari kami tidak pernah terasa sepi.

Kadang-kadang kami bermain kejar-kejaran di jalan kampung, bersembunyi di balik pepohonan, atau membuat permainan dari benda-benda sederhana yang kami temukan di sekitar rumah.

Kami juga menikmati suasana kampung ketika pergi bersama kawan-kawan, melewati jalan tanah, melihat pepohonan bergoyang ditiup angin, dan mendengar suara burung dari kejauhan.

Kalau musim buah tiba, suasana kampung terasa semakin meriah. Pohon-pohon di sekitar rumah dan kebun menjadi bagian dari petualangan kami. Ada rasa gembira ketika menemukan buah yang masak, dan ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil mendapatkannya.

Terkadang kami bermain sampai lupa waktu. Ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan menyentuh tepian Sungai Indragiri, barulah kami sadar bahwa hari sudah hampir petang.

Dari kejauhan, suara orang tua memanggil anak-anaknya mulai terdengar.

“Ayo pulang! Hari sudahpetang!”

Kami pun berpisah, masing-masing menuju rumah. Namun, di dalam hati, kami sudah merencanakan permainan untuk esok hari.

Begitulah hari-hari kami berlalu. Sederhana, tetapi penuh kebahagiaan.

Senja di tepian Sungai Indragiri

Ada satu suasana yang selalu terasa istimewa ketika kuingat kembali, senja di tepian Sungai Indragiri.

Ketika matahari perlahan turun, langit berubah menjadi jingga keemasan. Permukaan sungai memantulkan cahaya yang indah, sementara angin sore bertiup lembut menyentuh wajah.

Di saat seperti itulah kehidupan kampung terasa begitu damai.

Aku membayangkan diriku dan Aminudin duduk di tepian sungai setelah seharian bermain. Tubuh kami lelah, kaki kami mungkin masih berdebu, dan pakaian kami tidak selalu bersih. Tetapi hati kami penuh kegembiraan.

Kami tidak memikirkan pekerjaan, biaya hidup, atau beratnya tanggung jawab seperti yang harus dipikirkan orang dewasa. Pikiran kami hanya tentang permainan hari ini dan petualangan yang menunggu esok pagi.

Seandainya waktu bisa dihentikan, mungkin aku ingin tinggal lebih lama di masa itu. Bukan karena hidup sekarang tidak berarti, melainkan karena masa kecil memiliki keindahan yang tidak bisa dibeli dan tidak mungkin diulang.

Ketika waktu mulai memisahkan langkah

Tahun demi tahun berlalu. Kami yang dahulu berlari tanpa memikirkan hari esok, perlahan tumbuh menjadi dewasa.

Kehidupan mulai membawa kami ke jalan masing-masing. Tanggung jawab bertambah, pekerjaan menunggu, keluarga harus diperhatikan, dan cita-cita harus diperjuangkan. Dunia yang dahulu terasa kecil, kini terasa semakin luas.

Namun, sejauh apa pun langkah kaki Ku pergi, kenangan masa kecil selalu mempunyai tempat tersendiri di dalam hati.

Amin akan selalu menjadi bagian dari cerita itu. Ia adalah saksi dari masa ketika kebahagiaan tidak membutuhkan banyak hal. Cukup dengan kelereng di tangan, sungai tempat bermain, kambing yang digembalakan, dan seorang teman yang selalu ada untuk berbagi tawa.

Mungkin sekarang kami sudah lama takbertemu. Mungkin keadaan telah berubah, dan mungkin banyak hal yang tidak lagi sama. Tetapi kenangan yang pernah kami ukir tidak akan hilang begitu saja.

Sebab persahabatan masa kecil bukan hanya tentang berapa lama kami bersama. Persahabatan itu juga tentang jejak yang ditinggalkan dalam perjalanan hidup seseorang.

Sialang Dua Dahan, kampung yang selalu kurindukan

Ada sesuatu yang berbeda ketika mengingat kampung halaman. Nama Sialang Dua Dahan saja sudah cukup untuk membawa pikiranku kembali ke masa lalu.

Aku teringat jalan-jalan kampung, suasana rumah-rumah penduduk, hamparan alam yang hijau, dan Sungai Indragiri yang terus mengalir tanpa mengenal lelah.

Sungai itu seakan menjadi saksi bisu perjalanan hidup kami. Ia menyaksikan anak-anak kecil bermain, tumbuh, kemudian pergi menjalani kehidupan masing-masing.

Airnya terus mengalir ke hilir, sementara waktu terus berjalan ke depan. Namun, kenangan yang tertinggal di tepian sungainya akan tetap hidup selama masih ada hati yang mengingatnya.

Kadang-kadang aku bertanya dalam hati: ke manakah perginya semua waktu itu?

Ke manakah perginya hari-hari ketika kami bermain kelereng sampai lupa makan? Ke manakah perginya tawa kami ketika berenang di sungai? Ke manakah perginya langkah-langkah kecil ketika menggembala kambing di padang rumput?

Semua itu kini menjadi bagian dari masa lalu. Tetapi masa lalu bukan berarti sesuatu yang sudah mati. Ia tetap hidup dalam cerita, dalam ingatan, dan dalam kerinduan yang sesekali datang tanpa diundang.

Dan ketika aku mengenang masa kecilku, selalu ada nama yang ikut hadir di dalamnya: Aminudin, sahabat masa kecilku di Kampung Sialang Dua Dahan.

Sialang Dua Dahan akan selalu menjadi kampung yang kurindukan. Sungai Indragiri akan selalu menjadi saksi kenangan kita. Dan persahabatan masa kecil kita akan selalu menjadi bagian indah dari perjalanan hidupku.

Waktu boleh berlalu, usia boleh bertambah, dan kehidupan boleh membawa kita ke tempat yang berbeda. Namun, kenangan masa kecil akan tetap tinggal di hati, seperti aliran Sungai Indragiri yang terus mengalir, membawa cerita dari masa ke masa.

Karena ada sahabat yang mungkin jarang kita temui lagi, tetapi namanya akan selalu hidup dalam kenangan. Dan ada kampung halaman yang mungkin telah lama kita tinggalkan, tetapi tidak pernah benar-benar pergi dari hati.

Salam rindu dari seorang sahabat, untuk Aminudin dan kenangan indah di Kampung Sialang Dua Dahan, Tepian Sungai Indragiri.

Berita terkini

Berkunjung ke LAMR, GMC Raih Juara 3 Nasional

Kamis, 03 Januari 2019 - 00:00:00 WIB

SDN 63 Juara Pertama Panggung Zapin Meskom se Pekanbaru

Minggu, 07 Oktober 2018 - 00:00:00 WIB

Ini cara Unri Menunjukkan Kecintaan Terhadap Kebudayaan Melayu

Sabtu, 29 September 2018 - 00:00:00 WIB

Ini Dia Bujang dan Dara Bengkalis 2018

Rabu, 09 Mei 2018 - 00:00:00 WIB

Bersama Keluarga Warga Tionghoa Bengkalis Mendatangi Vihara

Jumat, 16 Februari 2018 - 00:00:00 WIB

Bupati Wardan Minta Grebeg Suro Terus Dilestarikan

Kamis, 05 Oktober 2017 - 00:00:00 WIB

Tampilkan Lukisan di Bali, Riau Usung Empat Sungai Besar

Senin, 28 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Berkunjung ke Siak, DMDI dan RTM Malaysia Lakukan hal ini

Sabtu, 12 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Gubri Buka Festival Permainan Rakyat

Rabu, 09 Agustus 2017 - 00:00:00 WIB

Keberagaman Membuat Rohil Menjadi Maju

Kamis, 23 Maret 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+

Advertorial