Oleh: Fadhlan Nakhlah Rokan*
Mengharmoniskan Irama Al-Qur'an dan Logika Semesta
BAGI sebagian orang, Al-Qur'an dan Matematika mungkin berada di dua dunia yang berbeda. Bagi saya, keduanya justru bertemu pada satu hal:keteraturan.
Nama saya Fadhlan Nakhlah Rokan. Saya lahir pada 13 November 2009 dan tumbuh besar di Pekanbaru, Riau, bersama kedua orang tua saya, Ayahanda Nikmad Risa dan Ibunda Sarmun. Dari keluarga dan lingkungan tempat saya dibesarkan, banyak hal sederhana yang perlahan membentuk cara saya melihat kehidupan hingga hari ini.
Saya tidak merasa sepenuhnya introvert, tetapi juga bukan seseorang yang selalu mencari keramaian. Saya lebih nyaman menyebut diri saya sebagai ambivert. Ada saat ketika saya senang berinteraksi dengan banyak orang, tetapi ada pula waktu ketika saya lebih menikmati kesendirian untuk belajar dan berpikir.
Mungkin karena itu pula, saya cukup dekat dengan gagasan tentang keseimbangan.
Berawal dari Al-Qur'an
Perjalanan pendidikan saya dimulai di TKIT Insan Madani. Sejak kecil, saya mulai dikenalkan dengan nilai-nilai agama dan kebiasaan belajar Al-Qur'an. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan di SDIT Az-Zuhra Cipta Karya.
Enam tahun di sekolah dasar menjadi masa ketika saya mulai mengenal lebih banyak hal. Selain pelajaran di kelas, saya cukup sering mengikuti kegiatan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan Al-Qur'an.
Dari berbagai kesempatan tersebut, saya memperoleh beberapa pengalaman dan prestasi, di antaranya Juara 1 Adzan dan Juara Tartil Putra. Saya juga mengikuti berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dan Gebyar Maulid Nabi dan lainnya.
Namun, semakin lama saya mengikuti perlombaan, semakin saya menyadari bahwa menjadi juara bukanlah satu-satunya hal yang penting. Ada proses panjang sebelum seseorang berdiri di atas podium. Ada latihan yang harus diulang berkali-kali, rasa gugup sebelum tampil, kesalahan yang harus diperbaiki, dan terkadang hasil yang tidak sesuai dengan harapan.
Dari sana saya belajar bahwa prestasi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita bawa pulang setelah perlombaan selesai.
Bagi saya, Al-Qur'an mengajarkan ketekunan, kedisiplinan, ketelitian, dan ketawadhuan. Nilai-nilai itulah yang kemudian tanpa saya sadari ikut terbawa ke bidang lain dalam kehidupan saya.
Belajar Beradaptasi
Ketika memasuki kelas VII, saya melanjutkan pendidikan di Salafiyah Wustho Khairul Ummah 2 Pekanbaru. Pendidikan dengan manhaj salaf memberikan warna tersendiri dalam perjalanan pemahaman agama saya.
Pada kelas VIII dan IX, saya kemudian berpindah ke MTs Basma Darul 'Ilmi Wassa'adah. Perpindahan sekolah membuat saya belajar sesuatu yang tidak selalu bisa ditemukan di dalam buku: beradaptasi. Lingkungan baru berarti bertemu dengan orang-orang baru, kebiasaan baru, dan cara belajar yang berbeda. Saya harus belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.
Pengalaman tersebut perlahan membuat saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam berinteraksi, tetapi tetap nyaman dengan ketenangan dan ruang untuk berpikir.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama, saya melanjutkan ke MA Basma Darul 'Ilmi Wassa'adah. Di sinilah saya mulai menemukan ketertarikan yang semakin besar terhadap Matematika.
Ketika Angka Mulai Berbicara
Awalnya, Matematika bagi saya hanyalah kumpulan angka, rumus, dan soal yang harus diselesaikan. Namun semakin saya mempelajarinya, semakin saya tertarik pada sesuatu yang berada di balik angka-angka tersebut: cara berpikir.
Saya mulai menikmati proses ketika menghadapi soal yang terlihat rumit. Saya mencoba mencari pola, menghubungkan informasi, menyusun strategi, lalu mencoba lagi ketika cara pertama tidak berhasil.
Tidak semua soal dapat saya selesaikan dengan mudah. Bahkan ada soal yang membuat saya benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana. Tetapi justru dari situlah saya belajar.
Matematika mengajarkan saya bahwa kebuntuan bukan berarti akhir. Terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak, melihat persoalan dari sudut yang berbeda, kemudian mencoba kembali.
Ketertarikan tersebut mendorong saya mengikuti berbagai kompetisi Matematika. Salah satu pencapaian yang cukup berarti bagi saya adalah ketika berhasil meraih Juara 1 Matematika tingkat Kabupaten/Kota.
Prestasi tersebut tentu membuat saya bersyukur. Namun, lebih dari sekadar piala, pencapaian itu menjadi dorongan bagi saya untuk terus belajar dan melangkah ke tingkat berikutnya. Semakin jauh saya masuk ke dunia olimpiade Matematika, semakin saya sadar bahwa masih banyak hal yang belum saya kuasai. Dan justru itu yang membuat saya tertarik untuk terus belajar.
Dua Dunia yang Ternyata Berdekatan
Pada suatu titik, saya mulai menyadari sesuatu. Pengalaman saya mempelajari Al-Qur'an dan Matematika ternyata tidak benar-benar berada di dua dunia yang terpisah.
Dalam tartil, saya belajar memperhatikan setiap huruf, panjang pendek bacaan, serta aturan yang harus dijaga. Dalam Matematika, saya belajar memperhatikan setiap angka, pola, hubungan, dan langkah penyelesaian.
Keduanya menuntut kesabaran. Keduanya membutuhkan ketelitian. Dan keduanya mengajarkan saya bahwa sesuatu yang terlihat sederhana di permukaan sering kali memiliki kedalaman ketika dipelajari dengan sungguh- sungguh.
Tartil melatih kepekaan saya terhadap irama dan ketelitian. Matematika melatih saya melihat pola dan menggunakan logika.
Dari sana saya mulai memahami bahwa belajar tidak harus memisahkan hati dan pikiran. Ilmu agama membantu saya memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan, sementara ilmu pengetahuan membantu saya memahami berbagai persoalan dengan cara yang lebih terstruktur.
Bagi saya, keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi.
Perjalanan yang Masih Panjang
Saat ini, saya masih berada di awal perjalanan.
Piala dari berbagai perlombaan Al-Qur'an dan medali dari kompetisi melengkapi hanyalah bagian kecil dari perjalanan yang masih panjang. Masih banyak soal yang belum mampu saya pecahkan, masih banyak hal tentang Al-Qur'an yang ingin saya pelajari, dan masih banyak pengalaman yang belum saya jalani.
Karena itu, saya tidak ingin menjadikan prestasi sebagai garis akhir.
Saya ingin menjadikannya sebagai pengingat bahwa saya harus terus belajar. Saya ingin mengejar prestasi tanpa kehilangan kerendahan hati. Saya ingin memiliki kemampuan berpikir yang tajam tanpa kehilangan kelembutan hati. Saya ingin terus berkembang tanpa melupakan orang-orang yang telah mendukung saya sejak awal. Terutama Ayah dan Bunda.
Banyak hal yang saya capai hari ini tidak terlepas dari doa, dukungan, dan pengorbanan mereka. Karena itu, salah satu harapan terbesar saya bukan hanya menjadi seseorang yang berprestasi, tetapi juga menjadi seseorang yang kelak dapat membuat mereka bangga dan merasa bahwa setiap doa serta perjuangan mereka memiliki arti.
Saya masih Fadhlan yang sedang belajar. Belajar membaca Al-Qur'an dengan hati. Belajar memahami Matematika dengan logika. Dan belajar memahami kehidupan dengan keduanya.
Sebab bagi saya, perjalanan ilmu bukan tentang memilih antara irama Al-Qur'an atau logika semesta
Melainkan tentang bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan—kelembutan ayat suci di dalam dada dan ketajaman logika di dalam kepala.
-
Tentang Penulis
Fadhlan Nakhlah Rokanadalah pelajar MA Basma Darul 'Ilmi Wassa'adah, Rokan Hulu, Riau. Ia memiliki ketertarikan pada Al-Qur'an dan Matematika serta aktif mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi di kedua bidang tersebut.
Saat ini, ia terus mengembangkan diri melalui pembelajaran dan kompetisi Matematika, sekaligus mempertahankan kecintaannya terhadap Al-Qur'an.

























