Jumat, 19 Juni 2026 - 18:00:14 WIB

Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi “Sell Indonesia” Dinilai Keliru

Ilustrasi

JAKARTA — Di tengah munculnya berbagai narasi pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional, sejumlah ekonom dan akademisi justru menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menilai keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai 1,5 miliar dolar AS menjadi bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi ‘Sell Indonesia’. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap ‘Buy Indonesia’,” kata Iswadi di Jakarta.

Penerbitan obligasi tersebut mendapat respons sangat positif dari pasar internasional. Nilai pemesanan tercatat mencapai 4,6 miliar dolar AS atau mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dibanding target awal sebesar 1 miliar dolar AS.

Menurut Iswadi, tingginya minat investor tersebut menunjukkan bahwa pasar global masih melihat prospek ekonomi Indonesia secara positif.

“Jika investor tidak percaya terhadap masa depan ekonomi Indonesia, mustahil permintaan bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat target penerbitan. Ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan pasar masih sangat tinggi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini. Ia menilai kritik yang menyebut disiplin fiskal pemerintah memburuk tidak sepenuhnya sesuai dengan perkembangan data terkini.

“Saya cermati, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai. Terutama soal defisit sampai Mei 2026, terjaga 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus terjaga sampai kuartal kedua,” kata Didik.

Menurutnya, kemampuan pemerintah menjaga defisit pada level rendah menunjukkan pengelolaan APBN masih berada pada jalur yang sehat. Selain itu, pendapatan negara juga mengalami peningkatan yang signifikan.

“Pendapatan fiskal meningkat sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026. Penerimaan pajak naik 22 persen dan menjadi salah satu penopang utama stabilitas fiskal kita,” ujarnya.

Didik juga menyoroti pembiayaan fiskal yang telah mencapai Rp379,4 triliun atau setara 55,1 persen dari target tahunan.

“Artinya ada penyediaan pendanaan yang cukup untuk mendukung pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini,” tambahnya.

Sementara itu, Ekonom Myrdal Gunarto menilai risiko utang luar negeri (ULN) Indonesia saat ini masih relatif terkendali karena kenaikannya belum terlalu agresif. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada April 2026 hanya sebesar 1,9 persen secara tahunan.

“Perkembangan utang luar negeri kita memang pertumbuhannya masih pelan. Ini masih mencerminkan ketergantungan yang relatif rendah dari pemerintah ataupun pelaku bisnis swasta terhadap kebutuhan mereka untuk melakukan utang luar negeri,” kata Myrdal.

Ia menjelaskan bahwa sektor swasta saat ini masih cenderung berhati-hati melakukan ekspansi akibat ketidakpastian global, sehingga kenaikan utang lebih banyak berasal dari kebutuhan pembiayaan pemerintah dan refinancing utang jatuh tempo.

Di sisi lain, Myrdal Gunarto menilai diversifikasi sumber pembiayaan yang dilakukan pemerintah juga menunjukkan langkah antisipatif yang positif.

“Panda Bond bagus karena yield-nya terlihat lebih rendah dibandingkan instrumen surat utang dalam mata uang lain. Ini menjadi keuntungan bagi pemerintah untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan kebutuhan APBN,” ujarnya.**

Berita terkini

Ginda Burnama Dukung Program Dekopinda 2023-2028

Selasa, 06 Februari 2024 - 17:50:45 WIB

bjb Mesra, Skema Pinjaman Tanpa Bunga untuk Usaha Mikro

Rabu, 27 Desember 2023 - 10:09:45 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+