Minggu, 14 Juni 2026 - 18:15:02 WIB

Oleh: Firdaus, SE.,M.Si*

PETANI SAWIT HARUS BERSATU, Dari Kebun Rakyat Menuju Peradaban Sawit Indonesia, Indonesia adalah negeri sawit.

Firdaus, SE.,M.Si

DI BANYAK daerah, sawit bukan sekadar tanaman. Sawit adalah sumber kehidupan. Dari sawit, anak-anak bersekolah. Dari sawit, rumah dibangun. Dari sawit, kampung dan desa berkembang. Dari sawit, roda ekonomi rakyat terus berputar. Dari sawit pula lahir harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Sawit telah mengubah wajah banyak daerah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Desa-desa yang dahulu sunyi menjadi hidup. Kawasan yang dahulu tertinggal tumbuh menjadi pusat-pusat ekonomi baru.

Karena itu, ketika berbicara tentang sawit, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara tentang pohon. Kita sedang berbicara tentang manusia. Tentang keluarga. Tentang martabat. Dan tentang masa depan jutaan rakyat Indonesia.

Hari ini Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kita memasok lebih dari separuh kebutuhan minyak sawit dunia.

Di balik kebanggaan itu terdapat sekitar 2,6 juta rumah tangga petani sawit. Jika dihitung bersama anggota keluarganya, sekitar 13 hingga 16 juta jiwa menggantungkan hidup pada sektor ini.

Belum lagi jutaan pekerja yang hidup dari rantai ekonomi sawit. Mulai dari pemanen, sopir angkutan, pekerja pabrik, pedagang pupuk, kontraktor, mekanik, hingga berbagai usaha kecil yang tumbuh di sekitar kawasan perkebunan.

Artinya, sawit bukan hanya menghidupi petani.
Sawit menghidupi puluhan juta rakyat Indonesia.
Sawit bukan hanya komoditas ekspor.
Sawit adalah denyut ekonomi rakyat.
Namun di balik kebesaran itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan.
Mengapa kelompok sebesar ini masih sering berada pada posisi yang lemah?

Ketika harga TBS turun, petani yang pertama merasakan dampaknya.
Ketika pupuk naik, petani yang menanggung bebannya.
Ketika jalan produksi rusak, petani yang harus mencari jalan keluarnya.
Ketika sawit mendapat kampanye negatif di pasar internasional, petani pula yang ikut menerima akibatnya.

Tetapi ketika kebijakan dibuat dan masa depan sawit dibicarakan, suara petani sering kali tidak berada di ruang utama.

Padahal petani adalah fondasi industri ini.
Tanpa petani tidak ada TBS.
Tanpa TBS tidak ada CPO.
Tanpa CPO tidak ada industri hilir.
Dan tanpa semuanya itu, tidak ada devisa sawit yang selama ini dibanggakan.

Sejarah beberapa tahun terakhir memberikan pelajaran yang sangat mahal bagi petani sawit.
Ketika pemerintah memberlakukan pembatasan ekspor CPO pada tahun 2022 untuk menstabilkan pasokan minyak goreng dalam negeri, harga TBS petani di berbagai daerah langsung terjun bebas. Di sejumlah sentra sawit, harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat jatuh hingga mendekati Rp300–Rp500 per kilogram.
Buah tetap matang.
Buah tetap harus dipanen.
Tetapi nilainya seolah hilang dalam hitungan hari.

Petani tidak ikut merumuskan kebijakan tersebut.
Petani juga tidak menikmati keuntungan terbesar ketika harga CPO dunia melonjak.
Namun ketika kebijakan itu menimbulkan gejolak pasar, petanilah yang paling dahulu menanggung akibatnya.

Pelajaran yang sama kembali terlihat setiap kali muncul wacana perubahan tata niaga sawit. Ketika muncul rencana penataan ekspor melalui mekanisme yang lebih terpusat, pasar langsung bereaksi. Spekulasi bermunculan. Kekhawatiran meningkat. Dan seperti biasa, dampaknya lebih dahulu terasa di tingkat petani melalui pelemahan harga TBS.
Sering kali kebijakan belum berjalan.
Tetapi harga di tingkat petani sudah lebih dahulu jatuh.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi petani sawit selama ini.
Ketika industri menikmati keuntungan, petani tidak selalu menikmati bagian yang sepadan.
Tetapi ketika terjadi gejolak, petani hampir selalu menjadi kelompok yang pertama menerima dampaknya.

Menurut saya, persoalan terbesar petani sawit hari ini bukan semata-mata harga yang fluktuatif.
Bukan pula pupuk yang mahal.
Bukan akses modal yang terbatas.
Persoalan terbesar kita adalah belum terbangunnya kekuatan bersama.
Kita besar dalam jumlah.
Tetapi belum cukup besar dalam persatuan.
Kita kuat di kebun.
Tetapi belum cukup kuat dalam kelembagaan.

Padahal orang tua-tua Melayu telah lama mengingatkan:

“Seikat bak lidi, serumpun bak aur, sesusun bak sirih.”

Lidi yang sebatang mudah dipatahkan.
Tetapi ketika terikat menjadi satu, ia menjadi kuat dan bermanfaat.

Begitu pula petani sawit.
Jika berjalan sendiri-sendiri, kita akan terus menjadi penerima keadaan.
Tetapi jika bersatu, kita dapat menjadi penentu masa depan.

Orang Bugis juga meninggalkan pesan yang sangat mulia:
“Mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge.”
Yang hanyut kita selamatkan bersama.
Yang jatuh kita bangunkan bersama.
Yang khilaf kita saling mengingatkan.
Nilai inilah yang harus menjadi fondasi perjuangan petani sawit Indonesia.

Karena tidak ada petani yang akan kuat sendirian.
Tidak ada koperasi yang akan besar sendirian.
Dan tidak ada peradaban yang dibangun oleh orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri.
Sudah saatnya petani sawit mulai berpikir lebih jauh daripada panen bulan ini.
Kita perlu memikirkan masa depan anak cucu kita.
Kita perlu memikirkan bagaimana agar generasi berikutnya tidak hanya mewarisi kebun, tetapi juga mewarisi kekuatan ekonomi.

Di sinilah saya melihat pentingnya membangun Dana Abadi Sawit Rakyat.
Gagasannya sederhana.
Setiap petani menyisihkan sebagian kecil hasil panennya.
Mungkin hanya Rp10, Rp20, atau Rp50 dari setiap kilogram TBS yang dijual.
Jumlah yang kecil bagi satu orang.
Tetapi akan menjadi kekuatan yang luar biasa jika dilakukan oleh jutaan petani secara bersama-sama.

Jika dua juta petani menyisihkan rata-rata Rp100.000 setiap bulan, maka akan terkumpul sekitar Rp200 miliar setiap bulan.
Dalam setahun mencapai Rp2,4 triliun.
Dalam sepuluh tahun nilainya dapat mencapai puluhan triliun rupiah.

Itulah kekuatan gotong royong.
Itulah kekuatan persatuan.
Itulah kekuatan rakyat ketika memiliki tujuan yang sama.

Dana itu jangan habis untuk rapat dan seremonial.
Dana itu harus menjadi modal masa depan.
Dana itu harus menjadi modal perjuangan.
Dana itu harus menjadi modal peradaban.
Dana itu dapat digunakan untuk membangun jalan produksi.
Membiayai riset dan inovasi sawit.
Memberikan beasiswa kepada anak-anak petani.
Membantu peremajaan kebun rakyat.
Membangun pusat pelatihan petani modern.
Mendirikan koperasi yang profesional.
Membangun pabrik kelapa sawit milik petani.
Membangun industri hilir milik petani.
Bahkan suatu hari nanti membangun lembaga keuangan, pusat riset, dan jaringan perdagangan yang dimiliki oleh petani sawit sendiri.

Mungkin hari ini terdengar seperti mimpi.
Tetapi semua kemajuan besar selalu dimulai dari mimpi besar yang diperjuangkan bersama.
Kita terlalu lama berpikir sebagai penjual buah.
Sudah saatnya kita mulai berpikir sebagai pemilik masa depan.

Kemakmuran tidak lahir dari menjual bahan mentah selamanya.
Kemakmuran lahir ketika kita mampu menguasai nilai tambah.
Ketika kita memiliki koperasi yang kuat.
Ketika kita memiliki pabrik sendiri.
Ketika kita memiliki industri sendiri.
Ketika kita memiliki lembaga ekonomi yang bekerja untuk kepentingan petani.

Bayangkan sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.
Anak-anak petani sawit tidak hanya menjadi pekerja di kebun.
Mereka menjadi insinyur.
Menjadi peneliti.
Menjadi pengusaha.
Menjadi pengelola industri hilir.
Menjadi pemimpin koperasi modern.
Menjadi generasi yang menguasai teknologi dan pasar.

Itulah yang saya sebut sebagai Peradaban Sawit Indonesia.
Peradaban yang dibangun dari kebun rakyat.
Dibiayai oleh rakyat.
Dikelola oleh rakyat.
Dan hasilnya kembali kepada rakyat.

Orang Bugis juga mengajarkan:
“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”
Hanya dengan kerja keras, ketekunan, dan perjuangan, rahmat Tuhan akan datang.

Maka jangan pernah merasa kecil.
Jangan pernah merasa tidak berdaya.
Jangan pernah merasa sendirian.
Karena jika jutaan petani sawit bersatu, tidak ada kekuatan yang dapat mengabaikan suara mereka.

Sawit telah memberi banyak kepada Indonesia.
Sawit telah membangun kampung dan desa.
Sawit telah menyekolahkan jutaan anak bangsa.
Sawit telah mengangkat ekonomi masyarakat di berbagai pelosok negeri.

Kini saatnya petani sawit membangun dirinya sendiri.
Membangun persatuan.
Membangun kelembagaan.
Membangun dana abadi.
Membangun industri.
Dan membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.
Karena pada akhirnya, sawit bukan hanya tentang hasil panen hari ini.
Sawit adalah tentang warisan yang akan kita tinggalkan untuk esok.

Dari kebun rakyat, kita bangun persatuan. Dari persatuan, kita bangun kekuatan. Dari kekuatan, kita bangun peradaban.
Sawit telah membesarkan Indonesia. Kini saatnya petani sawit bersatu untuk membesarkan dirinya sendiri dan memastikan bahwa kemakmuran yang lahir dari sawit juga kembali kepada mereka yang menanam, merawat, dan menjaganya sejak awal.


*Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PW Muhammadiyah Riau

Berita terkini

Oleh : Abdul Wahid *

PUASA “SATU RASA” RAMADAN

Sabtu, 02 Maret 2024 - 23:38:08 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

MEMILIH TAKDIR

Minggu, 04 Februari 2024 - 22:45:48 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

Menjaga DEMOKRASI Mencintai NKRI

Rabu, 24 Januari 2024 - 08:40:36 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

DEBAT yang DIPERDEBATKAN

Senin, 25 Desember 2023 - 23:10:30 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

30 September 65

Sabtu, 30 September 2023 - 09:05:21 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

"Simalakama" SK P3K

Selasa, 29 Agustus 2023 - 06:10:35 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

KEMERDEKAAN

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 05:00:53 WIB
Oleh : Dr.H.Bagus Santoso

Bengkalis Negeri Jelapang Padi

Minggu, 30 Juli 2023 - 11:05:50 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

Mengulas Curhatan Jemaah Haji 1444 H

Jumat, 28 Juli 2023 - 06:20:21 WIB

Tahniah Hari jadi Bengkalis

Selasa, 25 Juli 2023 - 15:47:05 WIB

Prospek Wisata Hutan Mangrove di Pulau Rupat

Jumat, 21 Juli 2023 - 13:49:34 WIB
Oleh : Abdul Wahid*

KOMPETISI

Minggu, 04 Juni 2023 - 17:40:58 WIB
Oleh : Abdul Wahid

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Minggu, 30 April 2023 - 12:30:10 WIB
Oleh : Abdul Wahid

SYAWAL Meningkat atau Menurun

Kamis, 20 April 2023 - 10:15:06 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+