Cerpen
Merajuk
HUJAN ujan terus menyirami bumi dari pagi hingga jelang siang belum nampak ada tanda-tanda akan berhenti. Doni meyeruput kopi yang sudah dingin, matanya nanar menatap hujan yang turun seakan mau menghitung butirannya satu persatu.
“Waduh gimana ini janjiku pada Nofi, pagi ini mau sarapan bareng ” gumannya.
“Sudah jam berapa ini, kok belum nyampe juga” dibacanya lagi sms terakhir dari Nofi dilayar HP nya.
Doni dan Nofi adalah dua sejoli yang sedang menjalin asmara, Doni mahasiswa semester akhir jurusan filasafat sedang menunggu panggilan sidang skripsi, sedangkan Nofi baru semester lima di perguruan tinggi yang sama.
Sudah satu tahun mereka menjalin kasih, awalnya Nofi yang aktivis kampus bertemu sosok Doni yang pendiam diacara seminar filsafat Hidup Khalil Gibran Sang Penyair, Doni sebagai peserta sedangkan Nofi panitia.
Jalinan cinta mereka terasa unik, Doni tidak aktif dikegiatan kampus, maennya di perpustakaan, bergaya filsuf dengan rambut terurai panjang. Teman-teman Nofi aja seakan tak percaya, Nofi bisa menjadikan Doni tambatan hati. Karena Nofi mahasiswi yang menjadi idola banyak mahasiswa di kampusnya, tapi baginya kehadiran Doni dapat mengisi sisi lain di kehidupannya, ketekunan dan kesabaran Doni yang senantiasa membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah dari dosen, membuatnya begitu Istimewa.
Nofi menatap kosong kearah pintu gerbang rumah, hari itu sudah direncanakannya sejak lama, kegiatan di organisasi kampus membuat jarang sekali bisa bersama dengan Doni, sehingga jalinan hubungan mereka terasa jauh walau sebenarnya sangat dekat.
Sedari pagi sudah menunggu dijemput untuk sarapan di bubur ayam Bandung Kabayan tempat pertama kali mereka sarapan berdua setahun yang lalu, hari ini mestinya mengulang kisah yang sama ditempat yang sama, namun yang ditunggu tak kunjung datang.
“Ada Nofi Bu,” tanya Doni pada Bude penjaga rumah kost tempat Nofi tinggal
"walah mas, Nofi tadi bilang dia pergi tapi tidak tau kemana” ujarnya
Doni melangkah gontai menuju motor bebeknya, dia menyadari sudah membuat Nofi menunggu dan kecewa, janji yang tidak bisa ditepati, sudah berulangkali coba dihubungi tapi HP nya mati.
Sementara itu Nofi menahan tangis melihat Doni pergi, sebenarmya Nofi ada di kamarnya, dia sengaja meminta Bude untuk mengatakan sedang keluar pada Doni. Karena rasa kecewanya masih memunca, dia tidak mau bertengkar dengan Doni, biarlah kali ini dirinya Merajuk, dengan harapan Doni tidak lagi mengulangi mengingkari janji.
Abdul Wahid
Panam, 1 September 2024


































