Rabu, 03 Oktober 2018 - 00:00:00 WIB

UIR Punya Potensi Menjadi Universitas Research untuk Mendorong Kemajuan Daerah

Riaupunya.com -- Research atau penelitian menjadi variable utama kemajuan sebuah bangsa. Begitu pun daerah. Sebuah daerah akan mengalami kemajuan bila konsepsi pembangunannya bertitik tolak dari research yang dilakukan para akademisi. Universitas Islam Riau memiliki potensi menjadi universitas research karena memiliki sumberdaya yang memadai.

''Lakukan penelitian yang bermanfaat. Penelitian tersebut tidak hanya berguna untuk diri si peneliti karena mengharapkan cum atau kredit dalam kenaikan fungsional melainkan dapat dipakai untuk pembangunan daerah. Atau kemajuan bagi daerah,'' kata Dr. Muhammad Dimyati, MSc, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti saat memberi Kuliah Umum di Gedung Rektorat Universitas Islam Riau, Rabu siang 3 Oktober 2018.

Kuliah Umum bertajuk, 'Strategi Peningkatan Riset Bertaraf Nasional dan International pada Perguruan Tinggi itu' dibuka Rektor UIR Prof. Dr. H. Syafrinaldi, S.H., M.C.L dihadiri para dekan di lingkungan UIR, Wakil Rektor I Dr. H. Syafhendry, Wakil Rektor II Ir. Asrol, Wakil Rektor III Ir. Rosyadi, Ketua Dewan Pertimbangan YLPI Riau Drs. H. Mukni, dosen, utusan berbagai perguruan tinggi swasta di Pekanbaru, serta ratusan mahasiswa.

Menurut Muhammad Damyati, sebagai universitas besar di Pulau Sumatera dirinya mengapresiasi peningkatan mutu yang dicapai UIR dalam satu tahun terakhir. Ia berpesan, UIR dapat melakukan inovasi-inovasi yang mempercepat diri ke arah kemajuan. ''Harus diubah mindsetnya. Penelitian musti dilakukan secara terus menerus. Kalau ada dosen yang semangat penelitiannya tinggi, silakan terus didorong. Bila perlu tamatan S3 yang baru pulang jangan dikasih jabatan administratif terlebih dahulu. Berikan mereka ruang mengimplementasikan ilmunya dalam bidang penelitian,'' kata Damyati.

Dijelaskan, research bisa memberi pelipat-gandaan terhadap nilai dari suatu objek. Sebuah coklat, kata Damyati memberi contoh, rasanya akan berbeda bila diberi sentuhan iptek. Demikian halnya dengan produk-produk lain. Selama ini, ada kesan penelitian yang dilakukan dosen hanya untuk diri sendiri. Sekedar memenuhi kewajiban dalam pengisian jabatan fungsional. Kini, cara-cara seperti itu sudah tidak zamannya lagi. Hasil penelitian harus dapat mendatangkan inovasi baru bagi kepentingan orang banyak, dan bisa dimanfaatkan oleh kampus atau pemerintah dalam mendatangkan perubahan dan pembaharuan.

Diakui, perhatian dan komitmen Pemerintah dalam pengalokasian dana penelitian cukup besar. Nilainya mencapai Rp 24,9 triliun. Dibandingkan alokasi serupa oleh negara-negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Amerika, Vietnam, China dan Korea Selatan, dana sebesar itu relatif masih kecil. Tapi untuk Indonesia, inilah dana yang paling besar yang pernah dialokasikan Pemerintah. Jumlah peneliti kita 1.071/1 juta penduduk. Masih belum memadai jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia. Idealnya Indonesia di atas 2.000.

Itu baru dari sisi jumlah peneliti. Belum lagi dari aspek kualitas penelitian, dari sisi manajemen dan kelembagaan. ''Kita masih tertinggal, dan banyak hal yang harus kita benahi. Tapi sekarang kondisi kita sudah jauh lebih baik sejak terbitnya sejumlah regulasi yang mengatur masalah ini,'' ujar Damyati.

Rektor UIR Prof. Syafrinaldi pun berharap, dosen-dosen UIR dapat memacu diri meningkatkan kualitas penelitian. Ia menyebut, telah banyak banyak kemajuan UIR di bidang penelitian. Baik penelitian yang pendanaannya bersumber dari hibah dikti maupun dari join research dengan universitas-universitas di luar negeri. Misalnya dengan Thailand, Chiba atau pun dengan Petornas. Bahkan dengan LIPI. Ia mengapresiasi naiknya ranking UIR di Kelembagaan Kementerian Dikti dari 467 top nasional pada tahun 2017 menjadi 123 di tahun 2018.

''Salah satu indikator naiknya ranking itu adalah penilaian di bidang penelitian. Tahun depan UIR mentargetkan masuk ke dalam 100 top nasional. Karena itu semua civitas akademika ia minta mengupdate seluruh karya ilmiahnya termasuk penelitian dan jurnal scopus ke dalam shinta maupun google schoolar,'' tegas Syafrinaldi. (rls)

Berita terkini

Jaring Siswa Riau, UNS Sosialisasi di Pekanbaru

Senin, 27 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

TICMI dan UMRI Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan Pasar Modal

Kamis, 23 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

UMRI Miliki Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia

Kamis, 23 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

378 Mahasiswa Peserta KKN STIE-I Resmi Dilepas

Kamis, 23 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Tahun ini Gedung Unisi Akan Difungsikan

Kamis, 23 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Tak Ada Jembatan, Saban Hari Pelajar Seberangi Sungai

Rabu, 22 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Fakultas Teknik Universitas Asahan Kunjungi Fakultas Teknik UIR

Selasa, 21 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Begini Komitmen UR Terhadap Pemeliharaan Lahan Gambut Riau

Senin, 20 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

SMPN 30 Pekanbaru Optimis Raih Akreditasi A

Selasa, 14 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

UKK SMK MUTU, Algafar: Dua Jurusan Dipercepat

Selasa, 14 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

76 Orang ASN UR Ikuti Tes Promosi Jabatan

Selasa, 14 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Anak Tukang Becak Ini Jadi Mahasiswa ITB dengan IPK 4,0

Minggu, 12 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Universitas Riau Peringkat ke-8 Versi “Webometrics”

Jumat, 10 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Kadisdik Kuansing Kaget Dana Sertifikasi Guru Sudah Habis

Jumat, 10 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Rektor UR Panen Raya Ikan di “Waduk Selais” UR

Kamis, 09 Februari 2017 - 00:00:00 WIB

Cari Judul Berita

Riau Punya Update

Follow Twitter

Google+